Catherine DML Martosudarmo, Psikolog. Foto: Ist/Kriminologi.id

Psikolog: Majikan Harus Utamakan Komunikasi dan Kejujuran dengan PRT

Estimasi Baca:
Kamis, 2 Ags 2018 19:05:06 WIB

Kriminologi.id - Maraknya peristiwa tragis antara majikan dengan pekerja rumah tangga (PRT) baru-baru ini, sebenarnya dapat diminimalisasi sedemikian rupa. Sambil menunggu pemerintah membuat standarisasi ataupun regulasi terkait hal ini, psikolog dan terapi perkawinan dan keluarga Catherine DML Martosudarmo mengungkap antara majikan dan PRT harus terjalin hubungan yang baik.

"Majikan itu harus tahu kenapa dia merekrut PRT. Alasannya apa harus jelas. Apa dia merasa bahwa tangannya enggak cukup (untuk mengerjakan berbagai hal), sibuk dalam bekerja dan membutuhkan orang lain untuk membantu. Itu harus jelas dulu," kata Catherine kepada Kriminologi.id melalui sambungan teleponnya, Kamis, 2 Agustus 2018.

Menurut dia, bila seorang majikan sudah memahami kebutuhan itu, maka dia tidak boleh memiliki ekspektasi tinggi pada PRT. Majikan pun tidak boleh memperlakukan pekerjanya sebagai robot. Apalagi, kata Catherine, bila PRT tersebut juga harus memegang anak dari majikan tersebut. Maka, majikan tidak boleh menyerahkan semua tugas-tugas pengasuhan kepada PRT.

"Dengan memahami alasan kenapa majikan membutuhkan PRT, maka dia akan paham bahwa dia merekrut PRT itu sebagai perpanjangan tangannya untuk menyelesaikan tugas yang tidak bisa ia tangani dan bukan untuk menggantikan posisi majikannya sebagai seorang ibu," kata Catherine.

Untuk merekrut PRT, Catherine melanjutkan, seorang majikan atau keluarga harus mengetahui latar belakang pekerja tersebut. Dalam mencari PRT, menurut dia, bisa didapatkan dari rekomendasi PRT kawan atau saudara.

Hal itu dilakukan agar keluarga tersebut dapat mengenal asal usul orang yang akan membantunya dalam mengurus rumah tangganya. Sebab nantinya PRT tersebut akan masuk ke keluarganya dan menjadi anggota di dalamnya. Catherine melanjutkan, saat sudah mendapatkan calon PRT, sebaiknya sang majikan mulai menjalin komunikasi yang intens dengannya. 

Wawasan tentang profil orang yang akan dipekerjakan, menurut Catherine, itu dapat menjadi masukan apakah orang tersebut tepat untuk masuk dalam keluarga majikan atau tidak.

Hal-hal yang perlu dicermati majikan dari seorang PRT, kata Catherine, dapat terlihat mulai dari cara dia berpenampilan, cara bicaranya, motivasi dia bekerja, pengalamannya bekerja terutama bila ia nanti dipercayakan untuk memegang anak majikan. Selain itu, majikan juga harus mengomunikasikan batasan-batasan yang berlaku di keluarga tersebut dan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan PRT.

Cahterine mencontohkan, batasan itu, misalnya PRT tidak boleh memegang telepon selular saat sedang menjaga anak, atau mencuci tangan dahulu sebelum memegang anak. Menurut dia, dengan menginformasikan batasan-batasan itu sejak awal, maka kedua belah pihak akan mengetahui apakah PRT itu mampu untuk menjalankan tanggung jawabnya atau tidak.

"Dengan memberitahu batasan-batasan itu di awal, maka kalau dia sanggup, ya kita terima, tetapi kalau dia tidak sanggup, ya majikan jangan mempekerjakan orang itu," kata Catherine.

Saat ia sudah bekerja, Cahterine melanjutkan, komunikasi dengan PRT harus terus berjalan. Ia juga tidak menyalahkan bila sang majikan dalam waktu tertentu melakukan video call dengan PRT untuk melihat kondisi anaknya di rumah. 

Menanamkan kejujuran pada diri PRT juga hal yang utama. Misalnya mengajarkan PRT untuk berbicara terus terang tentang apa yang terjadi di dalam rumah tersebut ketika majikan sedang bekerja atau tidak ada di rumah. Salah satu contohnya, kata Catherine, ketika anak jatuh, ataupun saat PRT memecahkan piring kesayangan majikan, maka ia harus berbicara jujur.

Bila PRT tersebut sudah berusaha jujur dengan majikan, maka sang majikan harus bisa menerima kejujuran tersebut. Dengan begitu tidak akan ada lagi ledakan-ledakan (emosi) yang tidak perlu. Dengan cara ini, akan memudahkan majikan untuk melakukan pengawasan. Ia juga menyoroti agar majikan dalam berkomunikasi atau menegur dapat menahan emosinya.

"Komunikasi itu sangat penting, masalahnya PRT itu bukan mesin dan tidak semua bisa dikerjakan oleh dia, jadi ada hal-hal yang bisa majikan kerjakan sendiri. Dan, hubungan baik serta kejelasan (latar belakang PRT dan batasan-batasan bekerja oleh majikan) sejak awal itu penting," kata Catherine.

Terkait dengan berita bahwa PRT melampiaskan amarahnya kepada anak karena dendam terhadap majikan, Catherine, menyarankan agar jika PRT mempunyai konflik pribadi, sebaiknya majikan tidak perlu masuk terlalu jauh ke ranah pribadinya. Cukuplah menjadi seorang pendengar saja, ataupun memberikan masukan bila PRT tersebut meminta nasihat. Menurut dia, baik majikan maupun PRT, keduanya harus sama-sama menjaga hubungan baik sebagai sesama manusia.

"Manusiakan dia sebagai manusialah. Artinya, pasti ada kebaikan pada diri orang tersebut. Nah kita fokus pada kebaikannya. Manusia juga pernah salah, tapi kita bantu untuk memperbaikinya," kata Catherine. 

Sebelumnya diberitakan, Ratifah Rafsani Ahmad (3) tewas dibunuh Pekerja Rumah Tangga atau PRT yakni Santi (29) di Cikande, Banten. Balita itu tewas lantaran pelaku menaruh dendam kepada majikannya karena teguran dilarang berpacaran. Tindakan keji itu ia lakukan ketika korban sedang rewel. Pelaku menganiayanya hingga berakibat nyawanya melayang. 

KOMENTAR
500/500