Aksi pembunuhan oleh Badrun terhadap pasangan sejenis yakni Imam Maulana di Cibubur, Ilustrasi: Pixabay

Psikolog: Pasangan Sejenis Lebih Protektif karena Sulit Cari Pacar

Estimasi Baca:
Kamis, 16 Nov 2017 07:05:27 WIB

Kriminologi.id - Peristiwa pembunuhan pasangan sejenis terjadi di Clean House Laundry, Ruko Citra Grand Cibubur, pada Minggu, 12 November 2017. Psikolog menilai tindakan pasangan homoseksual lebih protektif daripada pasangan heteroseksual karena sulit mendapatkan pasangan.

Tersangka Badrun tega menghabisi Imam Maulana, kekasihnya. Badrun membunuh Imam dengan sadis lantaran cemburu pasangannya itu mempunyai pacar perempuan asal Bandung.

Psikolog klinis dari Universitas Tarumanegara, Jakarta, Denrich Suryadi, mengatakan, seseorang dengan gangguan orientasi seks memiliki sifat lebih protektif terhadap pasangannya.

Pasangan sejenis tersebut akan bersikap posesif dan tidak membiarkan pasangannya itu dimiliki oleh orang lain. Apalagi, kata Denrich, jumlah pasangan homoseksual di komunitasnya sangat terbatas.

"Hubungan yang terjadi pada pasangan sejenis sebetulnya sama seperti pasangan hetero atau normal," ujar Denrich kepada Kriminologi, Rabu, 15 November 2017.

Baik pasangan homoseksual maupun heteroseksual sama-sama memiliki komitmen. Seorang homoseksual juga punya rasa cemburu, marah, dan lebih protektif bila pasangannya selingkuh lantaran jumlah mereka amat terbatas. "Bahkan, ada kemungkinan rasa cemburu itu ditunjukkan secara agresi."

Baca: Kasus Cinta Sejenis, Badrun Ditembak Saat Ditangkap

Denrich menjelaskan, dengan jumlah yang sangat sedikit itu, seorang homoseksual akan lebih mengalami kesulitan dalam mencari pasangan dibandingkan pasangan normal lainnya. Alasan itulah, yang membuat seorang homoseksual akan merasa terancam posisinya bila pacarnya direbut orang lain.

Mereka berpikir untuk membunuh pasangan sendiri atau orang yang disukai agar orang lain tak bisa memilikinya jika ia juga tak bisa. "Ada yang berpikir begitu, daripada pasangannya dimiliki orang lain, dan dia gak bisa memiliki maka dia bisa melakukan hal brutal," kata Denrich.

Namun, aksi membunuh ini, kata Denrich, tidak bisa disamaratakan ke semua kaum homoseksual. Itu hanya terjadi ke segelintir orang saja. Menurutnya, banyak faktor yang mampu memengaruhi seseorang sampai bisa mengakhiri nyawa orang lain, termasuk pasangannya. 

Baca: CCTV Tuntun Polisi ke Tersangka Pembunuh Pria Dalam Karung

Denrich menjelaskan, setiap manusia mempunyai insting untuk membunuh dan bertahan hidup. Setiap manusia juga memiliki sisi feminin dan maskulin dalam dirinya. Yang membedakan adalah seberapa besar kemampuan seseorang tersebut untuk mengelola emosi pada dirinya. 

Faktor-faktor yang melatarbelakangi seseorang itu bisa membunuh orang lain, kata Denrich, dipengaruhi banyak faktor, mulai dari segi pendidikan hingga pengalaman hidupnya di masa lalu, terutama pengalaman pahit yang pernah dia alami. Denrich menjelaskan, masa lalu karena pernah diselingkuhi pasangan sebelumnya bisa menjadi pemicu.

"Banyak hal yang bisa melatarbelakangi seseorang itu membunuh pasangannya, bisa karena cemburu, tidak percaya pada diri sendiri, trauma masa lalu, segi pendidikannya, tidak mempunyai cara yang baik untuk mengatasi masalahnya, semua bisa terjadi. Atau, bisa juga aksi pembunuhan itu terjadi karena sebelumnya mereka bertengkar, mengeluarkan emosi dan tanpa sadar dia lalu membunuh," kata Denrich menjelaskan. 

Baca: Video: Cinta Sejenis Berujung Maut, Polisi Tangkap Badrun Si Pembunuh

Pada Rabu, 15 November 2017 sekitar pukul 2 pagi, petugas Jatanras Polda Metro Jaya menembak kaki Badrun, pelaku pembunuhan kekasih sesama jenisnya, Imam Maulana. Pelaku dibekuk di Ruko Citra Grand Cibubur. Tersangka kemudian membungkus mayat tersebut dengan menggunakan plastik laundry, plastik tebal, dan juga karpet. Setelah mayat terbungkus, pelaku mengikatnya dengan tali jemuran. 

Sejak Minggu hingga Selasa, pelaku menyimpan mayat tersebut di bagian tengah ruangan laundry dan menutupinya dengan baju-baju cucian. Dia kemudian membuang mayat tersebut ke Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur pada Selasa, 14 November 2017.

Reporter: Yenny Hardiyanti
Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500