Ilustrasi kekerasan. Foto: Ist/Kriminilogi.id

Psikolog: Share Video Kekerasan, Bukti Masyarakat Kurang Dewasa

Estimasi Baca:
Rabu, 8 Nov 2017 22:05:24 WIB

Kriminologi.id - Maraknya video kekerasan anak yang viral di media sosial, menandakan kurangnya kedewasaan pada masyarakat Indonesia. Hal itu dikatakan psikolog bidang sosial dari Universitas Indonesia, Amarina Ashar Ariyanto, merespon viralnya video penganiayaan yang diisukan terjadi di salah satu SMP di Kota Pangkal Pinang, Bangka Belitung.

"Masyarakat kita belum dewasa dalam menghadapi tayangan di media sosial maupun pemberitaan di media massa. Tidak dewasanya yakni dalam merespons pesan itu, sehingga masyarakat cenderung terlalu mudah untuk meneruskan ke orang lain tanpa berpikir panjang," kata Amarina ketika dihubungi Kriminologi pada Rabu, 8 November 2017.

Selain itu, kata Amarina, saat menerima pesan tersebut, yakni tayangan kekerasan, masyarakat tidak mengolah lebih dulu informasi tersebut. Amarina menjelaskan, masyarakat cenderung tidak memperhatikan sumber dari berita tersebut, dan tidak adanya pemahaman tentang perlunya berita tersebut untuk disebarkan.

"Saat menerima tayangan-tayangan kekerasan, sebaiknya masyarakat tidak menerima begitu saja, melainkan harus memahami dahulu tentang berita tersebut kemudian menayakan ke dirinya sendiri untuk apa saya forward berita itu dan manfaatnya apa bagi orang lain," kata Amarina melanjutkan.

Baca: Mendikbud Sebut Video Viral Kekerasan Siswa Dipelintir

Menurutnya, tayangan kekerasan yang dia maksudnya, bukan sekadar tayangan penganiayaan siswa yang sempat viral, tetapi juga aksi demonstrasi dengan teriakan-teriakan dan perusakan sarana publik. Selain itu, kata Amaria, termasuk juga film kartun.

"Di beberapa negara film kartun Tom and Jerry tidak boleh diputar. Karena di situ ada adengan kekerasan, misalnya dipukul, tetapi tokoh kartun itu tidak apa-apa. Kalau itu ditonton berulang-ulang, juga bisa berdampak untuk bagi penontonnya untuk melakukan hal yang sama," ujar Amarina.

Amarina menilai, bahwa penggunaan media sosial di masyarakat, baru sebatas eforia semata, bukan pada kematangan seseorang terhadap media. Padahal, dengan viralnya tayangan video kekerasan tersebut berdampak pada psikologis seseorang. 

Capturan video kekerasan di media sosial. Foto: Ist/Kriminologi.id

Dampak dari tayangan kekerasan tersebut, menurut Amarina, akan membuat kepekaan dalam diri masyarakat menjadi tumpul. Sehingga, kata Amarina, ini mengakibatkan seseorang akan menganggap melihat perilaku kekerasan itu adalah hal yang biasa. 

Baca: 28 Juta Perempuan Indonesia Alami Kekerasan

Dia berharap dengan kuatnya peran media sosial dan juga media massa, masyarakat bisa lebih meningkatkan wawasan terkait media literasi. Dengan memiliki pengetahuan tentang media literasi, maka masyarakat akan memiliki kematangan dalam menggunakan media sosial, juga saat merespons informasi yang mereka dapat melalui media massa.

Kasus-kasus penyebaran video kekerasan baik di media massa maupun di media sosial, berdasarkan data yang dihimpun Kriminologi, jumlahnya cukup besar.

Di situs berbagi video Youtube misalnya, kata pencarian video kekerasan hasil yang keluar sebanyak 27.500 video. Sedangkan, kata pencarian kekerasan akan muncul angka 199.000 video.

Video kekerasan yang sempat viral di Youtube, di antaranya video kekerasan rumah tangga sadis yang diunggah tahun lalu. Video ini menarik perhatian 32.000 penonton. Kemudian, dalam dua hari, video pemukulan guru terhadap murid di Pangkalpinang sudah ditonton oleh 20.000 pengguna akun.

Selain itu, ada juga video kekerasan yang terjadi di sebuah warnet di Cina yang diunggah setahun lalu. Video tersebut mendapat respons kuat dari masyarakat dan dilihat sebanyak 60.000 oleh pengguna akun. AS

Reporter: Yenny Hardiyanti
Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500