Suami peluk tubuh istri yang bersimbah derah usai ditembak oleh pelaku begal. Foto: Yuni Rusmini/Facebook

Psikolog: Waspadai Perilaku Aneh Anak Saripah Korban Tewas Begal

Estimasi Baca:
Sabtu, 7 Jul 2018 07:05:09 WIB

Kriminologi.id - Peristiwa aksi pembegalan yang merampas nyawa seorang ibu yakni Saripah (34) di Pakojan, Tangerang di hadapan mata anak bungsunya menyisakan trauma tersendiri. 

Psikolog anak dari RS Pantai Indah Kapuk, Ine Indriani mengatakan, efek yang bisa dialami anak korban berusia delapan tahun yang menyaksikan ibunya ditembak mati begal sangatlah berat. 

Trauma itu, kata Ine bisa bermacam-macam. Mulai dari ketakutan yang hebat, perubahan perilaku, hingga penurunan nilai akademis.

"Dampak taruma bisa jadi dia punya ketakutan berlebih. Dia bisa takut untuk keluar rumah, takut dengan orang yang memiliki ciri-ciri yang sama dengan pelaku begal yang menewaskan ibunya, takut ke minimarket, itu bisa saja terjadi," kata Ine kepada Kriminologi.id, Jumat, 6 Juli 2018.

Selain trauma itu, Ine menambahkan, anak tersebut juga bisa mengalami mimpi buruk, lebih emosional, cemas berlebihan, pemurung, dan menaruh curiga pada orang yang mengendari motor dan mengenakan helm. Apalagi, kata Ine, anak di usia delapan tahun itu sudah bisa mengingat setiap kejadian yang dia alami. Bahkan, ia bisa mengingat peristiwa itu sampai usia dewasa.

"Usia mulai delapan tahun ke atas, dia bisa mengingat peristiwa itu, atau bisa juga dia secara sadar dia lupa, tetapi di bawah sadarnya dia ingat," kata Ine.

Ine juga menambahkan, jika sang anak ini berusaha untuk menekan peristiwa traumatik yang dia alami dan berusaha untuk tidak mau mengingatnya lagi, serta tidak ada ruang untuk mengungkapkan perasaannya, maka perilakunya bisa terlihat aneh. Keanehannya itu, di antaranya ketakutan berlebihan.

"Biasanya, jika peristiwa traumatik itu dia teken, ia press, dan dia enggak mau ingat, perilakunya menjadi aneh, karena badannya masih menyimpan trauma tersebut. Makanya lebih baik si anak harus ditangani secara profesional, karena ini peristiwa yang sangat besar bagi hidupnya," kata Ine.

https://cdn.kriminologi.id/news_picture_thumb/5b3f710e5e3f9-1530884366-0afd7d657f177e8a072a53b2b626c394.jpg

Namun, kata Ine, untuk memberikan penanganan psikologis terhadap anak korban penembakan itu, juga harus dilihat secara menyeluruh. Ine menjelaskan, dalam menyembuhkan sisi psikologisnya, juga harus melihat apa yang ia alami sebelum peristiwa penembakan itu terjadi, saat perisitiwa itu terjadi, dan setelah peristiwa itu terjadi.

"Recovery trauma setiap orang itu berbeda-beda. Kalau trauma terjadi di masa kecil dan cukup berat, pasti kebawa sampai besar. Tapi, seberapa trauma itu bisa hilang, itu tergantung pada event sebelum terjadinya peristiwa itu. Apakah sebelumnya dia pernah punya pengalaman yang berkaitan dengan kehilangan orang, misalnya kakeknya, atau ada pengalaman yang berhubungan dengan attach atau kelekatan dengan ibunya, itu semua mempengaruhi," kata Ine.

Terkait dengan pengalaman anak yang pernah menyaksikan ibunya mencoba meminum racun serangga karena konflik keluarga dan anaknya sempat berteriak meminta pertolongan, kejadian itu, kata Ine akan menambah traumatik tersendiri. 

"Apalagi kalau anaknya tahu jika ibunya pernah ingin bunuh diri, kemungkinan itu makin berdampak negatif pada diri si anak, psikologis anak juga semakin berat, karena di event sebelumnya ada kejadian itu dan anak pasti terpapar, ditambah lagi kejadian kemarin saat dia menyaksikan ibunya ditembak hingga tewas," kata Ine.

Namun, Ine menegaskan, untuk proses pemulihan ini, kita juga harus mengetahui apakah dalam proses tumbuh kembangnya sang anak mendapatkan cinta dan perhatian yang besar dari keluarganya atau dari orang-orang terdekatnya. 

Jika kepribadian sang anak sebelum kejadian dia adalah sosok yang berani, emosinya baik, maka penangangannya akan lebih mudah dibandingkan bila sang anak sebelumnya punya psikologis yang berbeda.

Solusinya, kata Ine, sang anak harus mendapatkan penangangan dari pihak yang profesional. Sebab, sosok ibu bagi anak adalah figure secure pertama bagi hidupnya.

Ia berharap, sang anak nantinya akan mendapatkan penanganan yang sangat baik, misalnya dari pengganti sosok sang ibu yang sangat mencintainya, ataupun dari keluarga besarnya. Efeknya, kata Ine, akan berdampak pada pertumbuhan anak.

"Maka, dampak efek negatif psikologisnya dapat terminimalisir. Jika ia punya support system dari keluarga atau pengganti figur ibu, mungkin recovery-nya lebih mudah," kata Ine.

Treatment idealnya, kata Ine, support system itu berasal dari keluarga, karena sang anak baru saja kehilangan figur utama. Maka, ia membutuhkan pihak yang bisa menerimanya, mendengarnya, mengajak main, sehingga, kata Ine, sang anak bisa mengeluarkan emosi-emosi negatifnya.

Sebelumnya diberitakan, pada Rabu malam, 4 Juli 2018, terjadi penembakan dari aksi begal di kawasan Pakojan, Kota Tangerang, Banten. Aksi itu menewaskan seorang ibu yakni Saripah (34). Ia tewas diterjang timah panas oleh para pelaku begal yang berusaha merampas motornya. Kematian Saripah disaksikan langsung oleh anaknya yang berusia 8 tahun. Kini, petugas kepolisian masih memburu pelaku.

KOMENTAR
500/500