Ilustrasi Racun, Foto: Pixabay.com

Racun Jadi Favorit Perempuan daripada Pistol atau Senjata Tajam

Estimasi Baca:
Sabtu, 24 Feb 2018 11:30:16 WIB

Kriminologi.id - Kasus ibu yang meracuni tiga anaknya hingga tewas degan cairan serangga di daerah Gianyar Bali, pada 21 Februari 2018 bukan yang pertama. Sebulan sebelumnya, kasus serupa pun terjadi di daerah Jombang, Jawa Timur, yang dilakukan Evi Sulastin terhadap tiga anaknya menggunakan racun.

Cairan beracun juga menjadi pilihan favorit bagi perempuan yang menjadi pelaku pembunuhan di Amerika Serikat. Menurut data Biro Investigasi Federal, badan investigasi utama dari Departemen Keadilan Amerika Serikat, Federal Bureau of Investigation (FBI) dalam Supplementary Homicide Report tahun 1999-2012 menunjukkan perempuan pelaku pembunuhan berpotensi 7 kali lebih sering menggunakan racun dibandingkan benda tajam atau senjata api yang sering dilakukan pelaku pembunuhan laki-laki. 

Kasus Ni Luh Putu, seorang ibu di daerah Gianyar, Bali juga memilih mencekoki tiga anaknya dengan racun serangga pada 21 Februari 2018.

Baca: Ibu Racuni 3 Anak Hingga Tewas di Gianyar Sempat Coba Bunuh Diri

Setelah meracuni ketiga anaknya, pelaku mencoba mengakhiri hidup dengan menyayat pergelangan tangannya sendiri. Namun aksi ini rupanya diketahui saudaranya sehingga ibu dan anak tersebut dibawa ke rumah sakit terdekat. Sayangnya ketiga anak tersebut tak dapat diselamatkan.

Serupa dengan Ni Luh, seorang ibu di daerah Jombang, Jawa Timur bernama Evi Sulastin juga mencekoki tiga anaknya dengan racun serangga pada 15 Januari 2018. Racun itu juga yang dipilih oleh Evi untuk mengakhiri hidupnya.

Walaupun percobaan bunuh diri dengan menenggak racun itu gagal. Evi dapat diselamatkan. Hanya nyawa tiga anaknya tak tertolong.

Selain itu, menurut penelitian yang dilakukan oleh Belea T. Keeney dan Kathleen M. Heide terhadap 14 orang perempuan pelaku pembunuhan. Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Interpersonal Violence dengan judul Gender Difference in Serial Murder: A Preliminary Analysis menunjukkan 57 persen perempuan menggunakan racun dalam melakukan pembunuhan.

Baca: Depresi Ditinggal Suami, Ibu dan Tiga Anak Minum Racun

Menurut penelitian Keeney dan Heide inilah juga diketahui bahwa perempuan lebih cenderung melakukan pembunuhan terhadap anggota keluarga dan perempuan juga cenderung melakukan pembunuhan di dalam rumah.

Infografik Racun Jadi Senjata Kesukaan Perempuan Saat Membunuh. Infografik: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Hasil penelitian tersebut juga tergambar dalam dua kasus ibu yang membunuh anaknya dengan racun. Kedua kasus tersebut terjadi di dalam rumah, walaupun dalam kasus Ni Luh Putu rumah yang digunakan adalah rumah milik orang tuanya.

Terkait masalah siapa korbannya, FBI juga melansir data korban pembunuhan perempuan dengan menggunakan racun. Berdasarkan data tersebut, diketahui bahwa korbannya seringkali adalah anak perempuan, anak laki-laki, dan teman pelaku.

Sebenarnya penggunaan racun sebagai senjata pembunuhan oleh pelaku perempuan sudah ada sejak tahun 1800-an. Ini ditulis oleh Victoria M. Nagy dalam naskahnya yang berjudul Narratives in The Courtroom: Female Poisoners in Mid-nineteenth century England.

Baca: Riset: Ibu Bunuh Anak Akibat Stres dan Isolasi Sosial

Menurutnya, ada sekitar 177 perempuan yang dihukum karena melakukan pembunuhan sejak tahun 1800-1846 dan 17 orang diantaranya menggunakan racun sebagai senjata untuk melakukan pembunuhan.

Menurut Nagy, racun pada periode tahun tersebut digunakan sebagai senjata oleh perempuan untuk membunuh suaminya. Sebab pada masa itu, banyak sekali perempuan-perempuan yang dipaksa untuk menikah oleh orang tuanya. Sehingga mereka ingin lari dari pernikahan yang tidak diharapkannya.

Penggunaan racun dalam pembunuhan memang tidak meninggalkan jejak darah sehingga pelaku berpikir bisa menghilangkan nyawa korban dengan cepat tanpa merasa kesakitan. Ini yang menjadi salah satu faktor perempuan lebih suka racun dalam melakukan aksi pembunuhannya. SM

KOMENTAR
500/500