Ilustrasi ibu muda labil hadapi masalah keluarga. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Razkia Madawiyah Gantung Diri, Psikolog: Labil Hadapi Masalah Keluarga

Estimasi Baca:
Minggu, 5 Ags 2018 08:05:52 WIB

Kriminologi.id - Razkia Madawiyah atau Kiki, ibu muda yang gantung diri di rumah mertuanya Gang Perahu, Jatiranggon, Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi, Jumat, 3 Agustus 2018 pagi. 

Rekam jejak hidup Kiki yang besar dari keluarga pra sejahtera, dan menikah di usia teramat muda kemungkinan menjadi faktor pendukung sehingga dirinya mengambil jalan pintas di tiang gantungan. 

Psikologi dari Universitas Indonesia Mira Amir, menarik nafas panjang saat mengetahui latar belakang ibu muda yang gantung diri di Bekasi ini.

Ia menyebutkan air susu ibu atau ASI Kiki tak keluar itu kemungkinan besar merupakan dampak psikologi ibu yang mengalami stres. 

"ASI nggak keluar itu juga dampak psikologi, bisa aja stres. Latar belakang ekonomi hingga istri sampai ambil keputusan bunuh diri pertanda kontrol terhadap emosinya nggak cukup kuat, masih labil," ujar Mira Amir, Sabtu, 4 Agustus 2018. 

Rizkia Madawiyah korban bunuh diri di Jatirangon, Bekasi.
Kiki Ibu muda ditemukan gantung diri di rumah mertuanya.

Mira mengaitkan problem yang dialami Kiki dengan permasalahan psikologi ibu-ibu setelah melahirkan yang disebut dengan baby blues syndrome. Yakni bunuh diri karena depresi yang timbul setelah melahirkan. 

"Itu jangan-jangan yang terkuak, baby blues. Karena sindrom itu amat sangat personal dan banyak menyerang perempuan pascamelahirkan," ujarnya. 

Faktor lainnya, kata Mira, bisa jadi karena akumulasi trauma masa kecil yang dialami Kiki hingga tumbuh dewasa. Besar dalam kondisi keluarga yang kurang beruntung alias pra ekonomi rentan mengalami trauma masa kecil. 

Sehingga, ia berpendapat keputusan gantung diri itu bukan karena desakan ekonomi, atau larangan bekerja dari sang suami semata. Namun, dua faktor itu menjadi pemantik dari persoalan psikologi Kiki yang telah menumpuk sejak kecil. 

"Bisa jadi karena trauma masa kecilnya yang terus menumpuk sehingga korban sudah tidak tahu lagi harus bagaimana mengatasi masalah hidupnya," ujarnya. 

Rizkia Madawiyah korban bunuh diri di Jatirangon, Bekasi.
Kartu Tanda Penduduk Elektronik milik Kiki

Seperti diketahui, Kiki dibesarkan dari keluarga pra sejahtera yang menerima bantuan dari pemerintah. Ibu Kiki kegiatannya jualan makanan. Kiki sendiri pernah bekerja sebagai petugas SPBU di dekat rumahnya. 

Dari rangkaian penjalasan itu, Mira mengutarakan solusi yang disebutnya bisa memutus mata rantai penderitaan wanita yang disebabkan psikologi masih labil dalam menghadapi masalah keluarga.

Yakni, pemerintah harus segera menetapkan batas usia pernikahan minimal 18 tahun ke atas. Sehingga, kematangan usia dalam menikah itu menjadikan mereka tumbuh sebagai perempuan yang tangguh.

Kalau pun terlintas ingin bunuh diri, paling tidak sudah bisa melewati proses pemikiran panjang, tak seperti perempuan yang labil. 

"Kalaupun ada kepikiran untuk bunuh diri paling tidak pikiran lebih panjang. Kabur dulu ke rumah ibu atau saudara. Jadi lebih panjang," ujarnya.

Reporter: Syahrul Munir
Redaktur: Syahrul Munir
KOMENTAR
500/500