Para pelaku tawuran pelajar di Bantargebang, Kota Bekasi, yang tewaskan satu orang. Foto: Rahmat Kurnia/Kriminologi.id

Reza Indragiri: Tanpa Tawuran, Identitas Diri Seakan Lenyap

Estimasi Baca:
Jumat, 31 Ags 2018 06:35:56 WIB

Kriminologi.id - Indra Permana, siswa SMK Karya Bahana Mandiri tewas dalam tawuran antarpelajar di Jalan Raya Sumur Batu, Bantargebang, Kota Bekasi. Indra diduga dibacok dengan senjata tajam jenis celurit oleh SMK Pijar Alam.

Berdasarkan keterangan polisi, tawuran antarpelajar SMK KBM dan SMK Pijar Alam itu ternyata berawal dari aksi saling ejek di media sosial. Pertikaian di media sosial kedua kelompok itu berujung pada kesepakatan untuk menyelesaikannya dengan tawuran.

Berdasarkan penelusuran Kriminologi.id, tawuran pelajar yang dimulai dari media sosial bukan kali ini saja. Setidaknya, sejak Agustus 2017 hingga 15 Agustus 2018, sudah terjadi lima kali tawuran antarpelajar dan antaremaja yang bermula dari media sosial. Tawuran ini bahkan berujung pada hilangnya nyawa.

Kasus tawuran pelajar yang merenggut nyawa Indra Permana sedikit membuat publik terkejut. Bukan tanpa sebab, pertikaian di media sosial hingga 'terjun darat' itu tak lepas dari peran alumni dua kubu.

Menurut polisi, ketika terjadi pertikaian di media sosial pada Rabu, 15 Agustus 2018, para alumni 'mengompori' pelaku agar bertemu. Para alumni ini bahkan menyediakan celurit yang dibeli seharga Rp 35 ribu.

Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Reza Indragiri mengatakan, tawuran pelajar merupakan kekerasan yang terwariskan antargenerasi. Hal tersebut dapat dilihat dari campur tangan para alumni yang pernah melakukan aksi serupa sebelumnya.

"Dalam situasi di Bekasi, kekerasan terwariskan antargenerasi. Kekerasan seolah menjadi identitas (yang salah). Tanpa tawuran, identitas diri seakan lenyap," kata Reza kepada Kriminologi.id di Jakarta, Kamis, 30 Agustus 2018 malam.

Hal yang membuat miris adalah aksi remaja yang tak segan-segan menghabisi lawannya hingga tewas.

Menurut ahli psikolog forensik ini, dalam sebuah data global, usia melakukan kejahatan terjadi di usia belia.

Kondisi ini, kata dia, terjadi saat 'masa kritis' remaja dalam pembentukan karakternya. Menurut Reza, secara kodrati remaja adalah vivere pericoloso (hidup dalam situasi berbahaya). Perilaku berisiko remaja memang tingi.

Bagi dia, apa yang dilakukan pelajar di Bekasi memperlihatkan kompleksitasnya permasalahan yang dialami remaja saat ini. Tawuran, kata dia, merupakan muara dari segenap persoalan dari yang dialami remaja.

"Pengasuhan yang kurang tepat, kegelisahan remaja akan masa depan yang tak jelas, pengaruh teman sebaya dan lain-lain. Rokok, miras dan narkoba juga bikin tambah runyam," ujar dia.

Terkait tawuran yang muncul dari media sosial, peran alumni hingga berujung pada tewasnya Indra Permana, kata Reza, polisi tak harus fokus pada persoalan tawuran. Menurut Reza, ada baiknya penyidik menerapkan pasal kejahatan teroganisir dan pembunuhan berencana untuk memberi efek jera kepada pelaku.

"Sepintas tidak mungkin (melakukan kejahatan teroganisir) karena para pelaku masih sangat muda dan lingkup aksi sebatas di situ-situ saja. Tapi unsur-unsur kejahatan terorganisirnya boleh jadi terpenuhi," kata dia.

Diketahui, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak, ada pengecualian yang membuat seorang terdakwa yang masih belum dewasa hanya dapat setengah dari ancaman hukuman maksimal orang dewasa, yakni sepuluh tahun penjara.

Reporter: Marselinus Gual
Penulis: Marselinus Gual
Redaktur: Djibril Muhammad
KOMENTAR
500/500