Ilustrasi kekerasan perempuan Foto: S. Dwiangga Perwira/Krimnologi.id

Sebab Perempuan Dibunuh Pasangan, dari Cemburu hingga Soal Kehormatan

Estimasi Baca:
Sabtu, 12 Mei 2018 23:05:57 WIB

Kriminologi.id - Laura ditemukan tewas di pinggir sebuah pantai di Kabupaten Tangerang pada 4 Mei 2018. Mayat Laura ditemukan dengan kondisi yang mengenaskan hangus terbakar. Pelaku pembunuhan adalah Stefanus yang tak lain adalah calon suaminya.

Pada awalnya peristiwa pembunuhan ini tertutup rapat. Namun salah seorang rekan pelaku akhirnya melaporkan kasus ini kepada kepolisian. Rekan pelaku yang berinisial AZ mengatakan bahwa dirinya melihat mayat di dalam mobil Daihatsu Ayla berwarna silver dengan nomor polisi B 1044 BYT yang diparkir di wilayah Pekojan, Tambora, Jakarta Barat.

AZ juga menuturkan bahwa dirinya ikut mengantarkan pelaku membuang mayat Laura ke pantai di daerah Kabupaten Tangerang. Pada saat yang bersamaan rupanya anggota Polsek Tangerang menerima informasi dari masyarakat bahwa ditemukan mayat di Pantai Desa Karang Serang, Kabupaten Tangerang.

Pelaku adalah kekasih hati Laura sendiri yang telah mengikat janji untuk naik ke pelaminan pada bulan Agustus 2018. Sayangnya harapan Laura harus kandas, nyawanya juga harus berakhir di tangan orang kesayangannya itu.

Menurut data yang dikeluarkan oleh World Health Organization (WHO) pada tahun 2012 mencatat bahwa secara global pembunuhan terhadap perempuan pelakunya 37 persen adalah pasangannya.

Berdasarkan data tersebut, regional Asia merupakan wilayah dengan korban pembunuhan perempuan oleh pasangan terbanyak di dunia. Ada sekitar 19.700 perempuan yang tewas selama setahun.

Selanjutnya adalah regional Africa dengan 13.400 perempuan yang menjadi korban pembunuhan oleh pasangannya. Posisi ketiga adalah regional Amerika dengan 6.900 perempuan dan posisi keempat adalah regional Eropa dengan 3.300 perempuan. Terakhir adalah regional Oceania dengan 200 perempuan yang menjadi korban pembunuhan pasangannya.

Infografik Data Perempuan korban pembunuhan di Indonesia. Infografik: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Perempuan menjadi korban kekerasan hingga pembunuhan di Indonesia rasanya bukan sesuatu yang asing. Pada acara Women’s March 2018 yang digelar pada 3 Maret 2018 oleh para penggiat isu-isu perempuan sendiri bertujuan untuk melawan segala bentuk kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan.

Menurut Catatan Akhir Tahun Komisi Nasional Perempuan 2017, ada sekitar 260 ribu kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan. Kekerasan fisik menjadi salah satu jenis kejahatan yang paling banyak dilaporkan dan bahkan pembunuhan terhadap perempuan juga cukup banyak terjadi sekitar 173 menurut hitungan Komnas Perempuan.

Menurut Laporan Menghitung Pembunuhan Perempuan pada tahun 2017 terdapat  169 perempuan yang menjadi korban pembunuhan di Indonesia. Jawa Barat menjadi provinsi terbanyak dengan 24 orang perempuan yang menjadi korban pembunuhan. Selanjutnya posisi kedua adalah provinsi Jawa Timur dengan 23 orang perempuan tewas dibunuh.

Jawa Tengah menempati posisi ketiga dengan 19 orang perempuan yang menjadi korban pembunuhan. Selanjutnya di posisi keempat adalah provinsi Sumatera Utara dengan 16 orang perempuan yang dibunuh. Sedangkan posisi kelima dan keenam adalah provinsi DKI Jakarta dan provinsi Banten dengan masing-masing 13 orang dan 12 orang perempuan yang menjadi korban pembunuhan.

Infografik Data Perempuan korban pembunuhan di Indonesia. Infografik: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Indonesia Police Watch (IPW) mencatat selama Januari 2018 terdapat 30 orang perempuan yang menjadi korban pembunuhan pasangannya sendiri. Berdasarkan data yang dicatat oleh komunitas Menghitung Pembunuhan Perempuan besutan Kate Walton pada tahun 2016 ada 96 perempuan yang menjadi korban penmbunuhan oleh pasangannya. Sedangkan pada tahun 2017 terdapat 106 perempuan yang menjadi korban.

Penyebab perempuan menjadi korban pembunuhan oleh pasangannya pun alasannya beragam. Menurut R. Emerson Dobash dan Russel P. Dobash dalam bukunya yang berjudul When Men Murder Women yang diterbitkan oleh Oxford University Press pada tahun 2015 menyebutkan ada 3 alasan yang memicu laki-laki membunuh pasangannya. Ketiga alasan tersebut adalah:

1. Rasa Cemburu dan Posesif Terhadap Pasangan

Ketika laki-laki menduga ataupun menemukan fakta bahwa pasangannya berselingkuh tentu saja akan membangkitkan amarah laki-laki tersebut. Rasa posesif dan cemburu yang berlebihan akan mendorong laki-laki untuk mengambil tindakan-tindakan yang diluar nalarnya. Awalnya mungkin pasangan tersebut akan terlibat pertengkaran, namun emosi dan amarah yang menguasai pihak laki-laki akan membuatnya gelap mata dan mendorongnya melakukan tindakan kekerasan dan bahkan membunuh pasangannya.

2. Keinginan Perempuan Mengakhiri Hubungan

Suatu hubungan yang telah dibina dalam jangka waktu yang cukup lama namun kemudian pihak perempuan memutuskan untuk mengakhiri hubungan tersebut akan meninggalkan luka mendalam bagi pihak laki-laki. Rasa sedih bercampur dengan rasa kecewa yang mendalam dapat menyebabkan laki-laki mengalami depresi. Tidak jarang laki-laki tersebut akan membunuh pasangannya dan kemudian melakukan bunuh diri. Hal ini dilandasi pemikiran bahwa dirinya tidak dapat hidup tanpa pasangannya tersebut ataupun pemikiran jika si perempuan tidak dapat dimilikinya maka tidak ada orang lain yang bisa memilikinya. Inilah kemudian yang berperan sebagai pemicu bagi laki-laki untuk menghabisi nyawa perempuan pasangannya

3. Kekerasan yang Kelewat Batas

Kekerasan yang terjadi di dalam rumah tangga (KDRT) ataupun terjadi saat masih berpacaran (Dating Violence) dapat berujung pada pembunuhan. Kebiasaan laki-laki melukai perempuan semakin hari akan semakin meningkat baik dari segi jumlahnya maupun tingkat kesakitan yang dirasakan perempuan. Tewasnya perempuan karena perilaku kekerasan yang dilakukan oleh pasangannya dalam hal ini seringkali terjadi karena laki-laki tidak menyadari bahwa kekerasan yang dilakukannya melampaui batas perempuan menerimanya. Selain itu, laki-laki yang kerap melakukan kekerasan terhadap pasangannya secara tidak sengaja mencederai bagian-bagian tubuh perempuan yang vital sehingga berujung kepada kematian.

Selain ketiga alasan tersebut, alasan yang menarik muncul dari tulisan Hillary Mayell dalam National Geographic yang menceritakan bahwa ribuan perempuan di beberapa negara dibunuh sebagai simbol untuk menjaga kehormatan keluarga. Pembunuhan ini dilakukan oleh suaminya sendiri dan bahkan bisa saja dibantu oleh anggota keluarga lainnya.

Salah satu penyebabnya adalah perceraian, perceraian dianggap sebagai aib bagi keluarga sehingga ketika ada seorang perempuan yang ingin berpisah dari suaminya karena suaminya kerap melakukan kekerasan maka hal tersebut tidak diperbolehkan. Bagaimanapun seorang istri harus setia melayani suami dengan apapun kondisinya. Inilah kemudian yang membuat keluarga perempuan sekalipun memperbolehkan suami melukai dan bahkan membunuh istrinya karena dianggap melawan perkataan suami. Tidak hanya itu, ketika perempuan kabur dari rumah dan berlindung di rumah keluarganya sendiri, keluarganya pun akan menyerahkan dia kembali kepada suaminya dan bahkan banyak anggota keluarga perempuan yang turut melakukan kekerasan kepada perempuan tersebut.

Pembunuhan atas dasar menjaga kehormatan keluarga ini ditemukan praktiknya oleh The Office of The United Nations Commissioner for Human Rights, Terrorism, and Counter-terrorism di beberapa negara seperti di Banglades, Inggris, Brasil, Ekuador, Mesir, India, Israel, Italia, Jordania, Pakistan, Moroko, Swedia, Turki, dan Uganda.

Sebenarnya apapun alasannya tidak ada alasan pembenar bagi kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan apalagi jika berujung pada kematian. Indonesia sendiri telah turut ambil bagian dalam menentang kekerasan terhadap perempuan dalam Deklarasi Internasional tentang Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan dan telah memiliki landasan Undang-Undang nomor 7 tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW). Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat Indonesia memiliki kewajiban untuk menghapuskan kekerasan terhadap perempuan sehingga tidak ada lagi korban-korban yang berjatuhan seperti Laura. RZ

Infografik Alasan Pemicu Laki-laki membunuh Pasangannya. Infografik: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

KOMENTAR
500/500