Dok. Rocky Gerung. Foto: Rocky Gerung/Twitter

Sebut Kitab Suci adalah Fiksi, Rocky Gerung Dinilai Keliru Berpikir

Estimasi Baca:
Sabtu, 14 Apr 2018 11:00:18 WIB

Kriminologi.id - Statemen pengajar filsafat Rocky Gerung yang menyatakan kitab suci adalah fiksi dalam acara Indonesia Lawyers Club di TV One pada Selasa malam, 10 April 2018, mengundang reaksi dari sejumlah elemen masyarakat. Tak hanya berujung pada pelaporan polisi, pernyataannya dinilai sebagai bentuk fallacy atau kekeliruan berpikir.

Dari latar belakang yang sama, Direktur Riset Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra Jakarta, Ammar Fauzi Ph.D. menggarisbawahi beberapa catatan kritis. Kepada redaksi Kriminologi.id, Jumat, 13 April 2018, melalui sambungan telepon, ia menyoroti masalah secara filosofis pada dua istilah: fiksi dan kitab suci.

Sejak awal, Ammar mengajak untuk menilai fair pernyataan Gerung. "Orang sah-sah saja membuat definisi baru untuk sesuatu. Dan saya kira, definisi Gerung untuk fiksi itu agak unik. Selanjutnya, perlu kita amati pernyataannya sejauh definisi yang dia maksud, bukan berdasarkan definisi di tempat lain," tegasnya.

Menurut Ammar, ada istilah-istilah lain dalam Bahasa Indonesia yang sebanding dengan fiksi, seperti mitos, dongeng, legenda yang semuanya menyimpan satu esensi, yaitu sama-sama tidak berbasis fakta.

"Kadang-kadang definisi dari sesuatu bisa dibantu dengan antonimnya. Kebetulan kita dibantu dengan uraian Rocky Gerung. Di ILC saat itu, dia membuat hanya dua pilihan untuk publik, ‘Apakah kitab suci itu fiksi atau fakta?’ Ini menunjukkan oposisi fiksi itu adalah fakta," ujar Ammar.

Ammar sependapat dengan cara Rocky Gerung membuat definisi untuk memperjelas makna fiksi dengan mengoposisikannya dengan fakta.

Menurutnya, definisi fiksi yang dihubungkan dengan kitab suci, dalam pandangan Rocky Gerung, bukan definisi esensial, namun definisi fungsional. Maksudnya, kata Ammar, sekalipun fiksi itu secara esensial tidak berbasis fakta, tapi berfungsi sebagai energi untuk mengaktifkan imajinasi dalam rangka mengarah pada satu tujuan atau telos.

Dalam mendudukkan kitab suci, Ammar mempertanyakan kitab suci yang disebutkan Rocky Gerung itu. Pasalnya, kitab suci di satu agama tidak sama dengan di agama lain.

“Ini kitab suci yang mana? Di agama yang mana? Tidak semua kitab suci itu sama”, ujar Ammar.

Dalam argumentasinya, "Pertanyaan seperti ini sebetulnya cara paling gampang dan primitif dalam menemukan definition by instance, tapi kerap dihindari justru oleh kalangan pakar sendiri, karena memang di antaranya perlu keberanian. Ketakutan inilah yang nanti segera dibayar Gerung dengan falasi generalisasi."

Dosen filsafat dan tasawuf itu menilai pernyataan Rocky Gerung itu bentuk generalisasi atau falasi dalam logika. Ammar menyayangkan pernyataan pukul rata itu dari Rocky Gerung yang dikenal sebagai seorang terdidik dan pengajar filsafat.

"Kalau saya simpulkan Gerung ini sudah menggenaralisasi masalah, gejala falasi yang biasa dilakukan orang awam, tapi sangat disayangkan malah dilakukan oleh orang yang dikenal profesor filsafat. Kalau dilakukan oleh orang awam, itu bisa dimaklumi," Ammar menambahkan.

Selain itu, Ammar juga mengatakan yang menjadi keberatan umat Islam adalah kaitan fiksi dalam definisi Gerung itu dengan Alquran.

"Kaitannya dengan Islam, apakah dengan demikian, kalau kita katakan kitab suci itu fiksi, maka seluruh ayat dan seluruh unit ajaran dalam salah satu kitab suci, yakni Alquran, itu fiksi?! Ini yang barangkali jadi keberatan umat Islam," ujar Ammar.

Namun menurut Ammar, bisa dibenarkan jika ada hal-hal dalam Alquran berisi fiksi dalam pengertian Gerung, yakni tidak ada fakta konkretnya sekarang secara aktual, tetapi itu bukan berarti tidak ada sama sekali secara potensial sebagai telos, tujuan yang diharapkan akan terjadi fakta dan realisasinya melalui narasi kitab suci ini, seperti prinsip kehidupan setelah kematian, hari keadilan, dan peristiwa kiamat.

Ammar melanjutkan, "Tentu saja harus diakui ada narasi berbasis fakta aktual dalam Alquran. Karena itu, generalisasi Gerung bukan sekali dia tampilkan dalam hitungan menit di acara itu."

"Jadi kalau dikatakan dalam Alquran ada fiksi, itu memang ada, tapi fiksi dalam pengertian ‘fakta yang belum tiba’. Ini yang boleh jadi beda dengan makna yang awal kali tersirat dalam pemahaman masyarakat umum," kata Ammar.

Menurut Ammar, Rocky Gerung bukan hanya menggeneralisasi, tapi dia juga melimitasi dan mereduksi makna. Fakta dalam iman Muslim itu lebih luas dari yang dibatasi Gerung.

Dalam pengertian ini pula iman jadi berarti. "Iman terkait dengan hal-hal gaib, di antaranya fakta yang sudah terjadi, fakta yang akan terjadi, dan fakta di luar batasan ruang dan waktu. Mengatakan hal yang akan terjadi dalam Alquran itu fiksi, ramalan dan bukan fakta sama artinya dia tidak beriman," tambah Ammar.

Alquran bukan hanya berbicara telos, tujuan yang akan tiba. Dalam Alquran, telos itu juga berupa janji-janji yang pasti nyata dari Tuhan yang berjanji tidak akan mengkhianati janji. Menyatakan kitab suci Alquran sebagai fiksi sama artinya janji-janji itu juga fiksi dan bukan fakta, Allah sendiri juga jadi tuhan fiksi. Sebaliknya, beriman pada janji-janji Alquran sama artinya memastikan telos kitab suci ini fakta dari Tuhan Penguasa Fakta.

“Perilaku beriman seperti ini bukan di kalangan orang Muslim saja. Orang ateis dan skeptis pun merasa rasional dan waras bekerja berdasarkan janji orang lain. Dia tidak melihat MoU kontraknya dengan mitranya sebagai fiksi. Dalam iman orang muslim, Tuhan itu Penguasa Fakta. Semua janji Dia benar. Iman seperti ini, setidaknya, tidak kalah rasionalnya dengan kerasionalan dan kewarasan orang ateis tadi. Jadi, umat Islam tersinggung bukan semata-mata terganggu imannya, tetapi juga tercederai kerasionalannya," sambung Ammar.

Dia menambahkan, telos itu dibangun berdasarkan fakta yang tidak harus hanya terbukti dengan pengalaman spasio-temporal indrawi, tetapi juga ada fakta-fakta yang diverifikasi dengan rasio dan hati. "Dalam Islam, manusia dibenarkan imannya berdasarkan pemahaman, maka absurd mengaku beriman tapi tidak paham," tegasnya.

Di akhir, Ammar menilai Rocky Gerung tidak cukup cerdas secara emosional. Boleh jadi secara IQ dia mengklaim lebih di atas rata-rata, tapi secara emosional masih limbung, belum seimbang. Kita bisa tampil gagah meyakinkan dan Anda disuruh Alquran untuk berdebat tapi dengan cara sebaik mungkin. Kemungkinan besar dia tidak tahu Alquran, maka belajarlah sebelum tampil dengan pernyataan general,” ujar Ammar.

Kasus pelecehan kitab suci yang diduga dilakukan dosen filsafat Univeristas Indonesia, Rocky Gerung, berpotensi naik ke tingkat penyidikan. Proses penyidikan akan berlangsung jika laporan yang dilayangkan Abu Janda Al-Boliwudi atau Permadi Arya kepada polisi memenuhi syarat.

Diberitakan sebelumnya, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Argo Yuwono, mengatakan pelaporan terhadap Rocky Gerung oleh Permadi Arya selaku Ketua Cyber Indonesia diajukan pada Rabu, 11 April 2018. Pihak kepolisian hingga kini masih memeriksa laporan tersebut.

“Kami akan menilai apakah pelaporan yang dilayangkan Permadi Arya itu memenuhi syarat atau tidak. Nanti Tim dan Wasikid yang akan bertindak,” kata Argo di Polda Metro Jaya pada Kamis, 12 April 2018.

Menurut Argo, jika laporan Permadi terhadap Rocky Gerung memenuhi syarat, pihaknya akan melakukan penyidikan. Namun, bila tidak mememuhi syarat, maka laporan tersebut akan dihentikan.

KOMENTAR
500/500