Ilustrasi mayat bayi di TPA Benowo, Surabaya, Foto: Pixabay

Sinta, Ibu Penganiaya Bayi Calista Terindikasi Miliki Bibit Kekerasan

Estimasi Baca:
Senin, 26 Mar 2018 15:40:12 WIB
Gagalnya Sinta membina rumah tangga sebanyak dua kali, mengindikasikan dirinya memiliki bibit kekerasan. Hal itu terlihat dari bayinya Calista usia 15 bulan meninggal setelah 15 hari dirawat dalam keadaan koma.

Kriminologi.id - Kekerasan yang diduga dilakukan Sinta terhadap bayinya Calista yang berusia 15 bulan menghentakan publik. Meski sudah berstatus tersangka, Polres Karawang melakukan terobosan hukum yakni tidak akan melanjutkan proses tersebut hingga ke pengadilan. 

Salah satu faktor yang dijadikan alasan adalah kondisi psikologi Sinta yang labil. Terlebih kegagalannya dalam membina rumah tangga. 

"Kegagalan berulang Sinta dalam kehidupan perkawinannya mengindikasikan bahwa yang bersangkutan pada dasarnya sudah memiliki satu faktor risiko yang berdasarkan studi diketahui bertali-temali dengan tindak kejahatan yang disertai kekerasan," kata Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Reza Indragiri. 

Ia menjelaskan, hal itu terkait dengan pembahasan risk assessment (penakaran risiko). Risk assessment, ia mengaku, belum dipraktikkan di Indonesia untuk memprediksi seberapa mungkin pelaku kejahatan dengan kekerasan akan mengulangi perbuatannya. 

"Risk assessment dilakukan dengan meninjau beberapa faktor pada diri pelaku," ujarnya dalam keterangannya kepada Kriminologi.id, Senin, 26 Maret 2018. 

Faktor-faktor itu, Reza menjelaskan, adalah riwayat gangguan mental dan penyalahgunaan obat-obatan. Kedua, pola dalam mengekspresikan amarah. Ketiga, kemampuan memenuhi kebutuhan diri sendiri. Keempat, fantasi-fantasi kekerasan. Kelima, kemampuan menjaga stabilitas hal-hal mendasar, semisal tempat tinggal, pekerjaan, dan perkawinan.

Ia menambahkan, risk assessment dilakukan dalam rangka memastikan masyarakat tidak akan terekspos lagi dengan perilaku kekerasan si pelaku kelak setelah ia keluar dari penjara. 

"Dalam konteks semacam kasus Calista, risk assessment diadakan untuk memastikan bahwa andai kelak memiliki bayi kembali, Sinta tidak akan melakukan penganiayaan lagi terhadap anaknya," katanya mengungkapkan.

Reza menjelaskan, risk assessment dapat didesain sebagai salah satu elemen dari program rehabilitasi di dalam penjara. Elemen lainnya, karena tindak kriminalitas terkait dengan relasi orang tua dan anak, maka edukasi keterampilan pengasuhan juga disertakan dalam program rehabilitasi terhadap pelaku. 

"Sedangkan penguatan ekonomi pelaku, seperti yang juga menjadi sorotan Kapolres Karawang, diupayakan sebagai bentuk penanganan di luar penjara," ujarnya.

Selain itu, risk assessment, edukasi pengasuhan, dan pemberdayaan ekonomi sepatutnya diselenggarakan tanpa mengorbankan proses pidana. Jadi konkretnya terhadap pelaku, ia mengatakan, semestinya tetap dijalankan proses hukum hingga jatuh putusan hakim. 

"Nantinya, apabila hakim memvonis bersalah pelaku, hakim dapat memasukkan tiga agenda tersebut di atas sebagai bentuk penanganan yang negara kenakan terhadap terpidana selama ia menjalani masa hukumannya," kata Reza.

Vonis hakim, sebagai wujud tuntasnya proses hukum, juga mencerminkan terpenuhinya nilai keadilan yang diidamkan masyarakat dan bayi Calista sendiri. Spesifik terhadap bayi Calista, vonis bersalah yang hakim jatuhkan mencerminkan pengembaliaan harkat kemuliaan diri bayi malang tersebut.

Hanya dengan kerangka berpikir dan bingkai kerja di atas, kebutuhan pelaku akan treatment (seperti yang dikemukakan Kapolres Karawang) serta kepentingan masyarakat dan anak-anak Indonesia akan adanya punishment dan protection akan menemukan titik harmonisnya.

"Treatment, punishment, protection, inilah trisula ideal penegakan hukum atas kasus-kasus kejahatan terhadap anak di Tanah Air," ujar Reza menegaskan.

Sebelumnya, Calista, bayi yang berumur satu tahun tiga bulan akhirnya meninggal dunia. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Calista sempat dirawat di RSUD Karawang dalam keadaan koma selama 15 hari. Kondisi yang dialami bayi Calista itu karena dianiaya ibu kandungnya.

Polres Karawang telah menetapkan ibu bayi Calista, Sinta sebagai tersangka. Namun, status tersebut tak membuatnya diproses secara hukum. Melainkan penanganannya dilakukan di luar pengadilan.

Kapolres Karawang  AKBP Hendy F Kurniawan mengaku memiliki beberapa alasan pihaknya mengambil langkah tersebut. Yakni latar belakang kehidupan Sinta yang terbilang menyedihkan. 

Sinta disebut telah membina rumah tangga sebanyak dua kali dan kerap gagal. Belum lagi lilitan ekonomi yang kerap mengganggu kehidupannya. 

Ditambah dengan kondisi psikis atau kejiwaannya usai bayinya Calista meninggal dunia. "Sehingga membutuhkan penanganan yang bijak. Harus ada kebijakan hukum yang melahirkan kehidupan. Proses hukum tentunya harus melihat keseluruhan aspek tersebut," kata Hendy Minggu, 25 Maret 2018.

Terkait hal itu, ia menambahkan, pihaknya telah berkomunikasi dengan Kejaksaan Negeri Karawang dan Pemerintah Kabupaten Karawang.

Redaktur: Djibril Muhammad
KOMENTAR
500/500