Dok. Pakar Komunikasi Universitas Indonesia Pinckey Triputra. Foto: fisip.ui.ac.id

Siswa SD Duren Sawit Dipaksa Mencuri, Pakar: Orang Tua Terlalu Cuek

Estimasi Baca:
Jumat, 23 Mar 2018 11:08:26 WIB

Kriminologi.id - Kasus eksploitasi dua siswa sekolah dasar (SD) Duren Sawit, Jakarta Timur oleh ibu rumah tangga Zuhriyah yang memaksanya mencuri di Pasar Perumnas Klender, Jakarta Timur itu akibat orang tua yang terlalu cuek terhadap anak alias kurang perhatian. Pakar Komunikasi Universitas Indonesia, Pinckey Triputra, mengatakan minimnya perhatian dari keluarga yang membuat si anak rentan dimanfaatkan orang lain. 

Kasus anak berinisial A (10) dan EG (10) yang dijemput pelaku di sekolahnya lalu dipaksa mencuri di Pasar Perumnas Klender pada Selasa 20 Maret 2018. "Keluguan anak, apalagi yang berasal dari keluarga ekonomi bawah, tidak banyak memperhatikan anak itu rentan terpengaruh dari luar. Pengaruh orang lain yang memanfaatkan kerentanan anak untuk melakukan sesuatu demi orang lain ini bermula dari orang  tua si anak," ujar Pinckey Triputra kepada Kriminologi.id, Jumat, 23 Maret 2018. 

Ketua Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia itu menambahkan umumnya komunikasi dalam keluarga antara anak dan orang tua yang terbangun di keluarga dengan tingkat ekonomi di bawah garis normal itu kurang baik dibanding dengan keluarga mapan.

Komunikasi pada keluarga perekonomian rendah itu umumnya terjadi satu arah yakni orang tua kepada anak atau yang disebut Traditional Communication. Biasanya pola komunikasi ini berlangsung untuk memenuhi kepentingan orang tua, misalkan menyuruh sekolah, belajar atau meminta tolong dengan mengesampingkan kebutuhan di luar si anak. Posisi anak, kata Pinckey, dalam komunikasi ini seperti gelas kosong yang siap menampung air kapanpun. 

"Menyuruh-nyuruh tanpa memperhatikan kebutuhan di luar anak biasanya perhatian jadi longgar. Hanya diajak komunikasi pada saat dibutuhkan. Dampaknya si anak tidak punya konsep diri sehingga rentan dimanfaatkan orang lain," ujarnya. 

Pinckey menjelaskan pola komunikasi yang baik yakni dengan membangun diskusi bersama anak (Companionship Communication). Diskusi bersama anak atau yang disebut Pinckey sebagai family communication ini anak didudukan dalam posisi sejajar bersama orang tua. Sehingga komunikasi mengalir dua arah antara anak dan orang tua.

"Anak didudukan posisi sejajar dengan orang tua, bentuknya diskusi terbuka bukan instruksi," ujarnya. 

Saat ditanya cara komunikasi ibu rumah tangga sehingga bisa mempengaruhi bocah SD mau melakukan pencurian, Pinckey mengatakan itu bukan sesuatu yang spesial. Pelaku eksploitasi anak itu memiliki kemampuan persuasi sehingga bisa mempengaruhi kondisi anak. 

Kemampuan persuasi yang dilakukan pelaku Zuhriya itu misalnya dengan menghasut atau bujuk rayu sehingga bocah SD itu tergiur untuk melakukan tindakan yang diinginkan si ibu. "Kemampuan mempengaruhi si anak gampang saja, apalagi ibu ini tidak memegang nilai-nilai yang disepakati bersama. Bujuk rayu dengan iming-iming sesuatu yang membuat menarik si anak biasanya salah satu yang dilakukan ibu," ujarnya. 

Zuhriyah mengeksploitasi anak dengan menyuruh mencuri di Pasar Perumnas Klender, Jakarta Timur. Modus yang dilakukan, Zuhriyah menjemput dua anak SD di sekolahnya dan membawanya ke pasar untuk melakukan tindak pencurian. Caranya, Zuhriyah berpura-pura menawar barang yang diinginkan untuk menarik perhatian pedagang.

Saat itulah kedua bocah ini mencuri barang dan memasukkannya ke dalam tas dan kantung plastik hitam. Barang curian itu kemudian dijual di pasar yang sama dengan harga lebih murah. Kini, Zuhriyah telah ditangkap polisi setelah orang tua korban melaporkan tindakan eksploitasi anak ke polisi.

Akibat ulahnya, pelaku dikenakan Pasal 83 UU No 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara. 

Reporter: Syahrul Munir
Redaktur: Syahrul Munir
KOMENTAR
500/500