Ilustrasi anak SD berkelahi. Ilustrasi: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Siswa SD Tewas Berkelahi, Pengamat: Ada Masalah Hubungan Interpersonal

Estimasi Baca:
Rabu, 25 Jul 2018 13:45:21 WIB

Kriminologi.id - Kasus perkelahian siswa di sebuah SD di Kabupaten Garut, Jawa Barat hanya karena masalah buku pelajaran melibatkan FN (12) dan HK (12) dinilai memprihatinkan. Apalagi, dampak dari perkelahian itu mengakibatkan FN tewas tertusuk gunting di bagian kepala dan punggung.

Menurut pengamat pendidikan Doni Koesoema A, peristiwa ini membuktikan bahwa anak-anak tersebut memiliki masalah pada hubungan interpersonal antar manusia. Masalah tersebut, kata Doni, seharusnya menjadi tanggung jawab dunia pendidikan. 

"Mereka ini enggak bisa menahan emosinya, maka sebenarnya, proses pendidikan di tingkat dasar harus menggali titik temu tentang bagaimana anak diajarkan untuk hidup bersama dan belajar untuk mengendalikan emosinya, ini tugas bagi dunia pendidikan agar kejadian ini tidak terulang lagi di kemudian hari," kata Doni kepada Kriminologi.id melalui sambungan telepon, Rabu, 25 Juli 2018.

Doni mengungkapkan, saat ini sistem pendidikan yang berlaku bagi anak-anak sekolah dasar tidak menyentuh pada esensi yang seharusnya dikembangkan dalam diri anak di usia itu. Padahal, usia anak SD membutuhkan pendampingan yang tepat dan tidak harus dijejali dengan materi-materi pelajaran yang berat.

"Sekarang itu anak SD kelas 1, materi-materi (pelajarannya) banyak bahkan enggak masuk akal. PPKN sudah membahas masalah mahkamah konstitusi dan sebagainya, apa hubungannya dengan anak-anak SD sebagai warga negara, mereka seharusnya dilatih untuk hidup bersama-sama secara damai, bersahabat, bekerja sama, dan itu porsinya kurang," kata Doni menegaskan.

Ia juga menyinggung tentang kurikulum untuk siswa SD. Meski sudah ada materi terkait sikap dan keterampilan di Kurikulum 13 (K 13), namun dua hal itu belum banyak dieksplorasi oleh pihak sekolah. Padahal, kata Doni Presiden Joko Widodo telah menggaungkan revolusi mental pendidikan karakter.

K 13 atau Kurikulum tahun 2013 merupakan sebuah pembelajaran yang menekankan pada aspek afektif atau perubahan perilaku dan kompetensi. Indikator pencapaian pada kurikulum ini adalah tentang kompetensi yang berimbang antara sikap, keterampilan, dan pengetahuan, disamping cara pembelajarannya yang holistik dan menyenangkan.

Namun, ia menyadari bahwa belum semua pendidik memiliki pengetahuan atau konsep pengalaman tentang nilai-nilai pendidikan karakter. Sebab, para guru masih dibebani dengan isi materi pelajaran sesuai kurikulum. Selain itu, para guru juga tidak mengerti bagaimana mengukur keberhasilan pendidikan karakter itu.

"Di kementerian (Pendidikan) enggak jelas bagaimana menilai sikap sosial anak itu kriterianya apa, misalnya jujur, bertangung jawab, mandiri. Kan guru enggak ngerti bagaimana cara menilainya, misalkan si anak menurut guru terlihat B, ya dikasih B aja. Padahal kan bukan di situ, ada prosesnya, caranya, dan ada pendampingan anak untuk menjadi lebih baik, dan itu harus ada pendekatan personal. Itu yang tidak banyak diketahui oleh guru," kata Doni.

Ia juga mengatakan, bahwa guru hanya mengetahui tentang kompetensi terkait pengetahuan. Sedangkan untuk keterampilan, biasanya guru hanya menilai apakah anak didiknya mampu memberikan presentasi yang baik, dan apakah anak tersebut dapat membuat suatu karya. Sedangkan, terkait sikap moral, hubungan antarindividu, selalu luput dari perhatiannya.

"Guru nggak mengerti bagaimana cara menilainya, makanya itu selalu lewat, dan belum diterapkan dengan baik terutama yang dimensi sosialnya," kata Doni. 

Doni juga mengatakan, meski kemampuan membentuk karakter siswa harus dimiliki secara otomatis dan mandiri oleh para guru, namun di satu sisi, performa guru juga dituntut secara administrasi, diantaranya dalam pembuatan soal ujian. 

"Tapi kalau pendampingan anak dengan catatan-catatan kepribadiannya itu mana pernah dipertanyakan?", ujar Doni. 

Doni menegaskan, pendidikan karakter itu merupakan proses pembentukan manusia, dan sejak anak berusia 2 tahun sudah mulai mengerti bagaimana bersikap, meski dalam lingkup yang terbatas.

Pendidikan di usia dini ini, kata Doni, lebih tepat ditangani oleh pendidik di lingkup PAUD. Di usia ini, anak-anak seharusnya diajarkan tentang mengenal orang lain, bersahabat, dan bekerja sama. 

"Level berikutnya itu ada di dimensi sosial, ini prioritasnya ada di tingkat SD. Karena di tingkat inilah, nilai-nilai tersebut ditanamkan secara lebih mendalam dengan banyak pelatihan-pelatihannya," kata Doni. 

Menurut Doni, bila ada tim psikolog anak di sekolah itu akan lebih baik untuk membentuk karakter anak.

Namun, kata Doni, di sekolah SD sudah ada wali kelas di kelas masing-masing. Seharusnya tugas wali kelas inilah yang berperan untuk mengenali dan memahami karakter siswa. Maka, menurutnya, tiap wali kelas harus dibekali kemampuan psikologi anak serta bagaimana cara mengatasi anak. RZ

Reporter: Yenny Hardiyanti
Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Reza Yunanto
KOMENTAR
500/500