Ilustrasi korban tewas, Ilustrasi: Pixabay

Siswa SD Tewas Tertusuk Gunting, Psikolog: Ini Perkelahian Tak Wajar

Estimasi Baca:
Rabu, 25 Jul 2018 19:50:28 WIB

Kriminologi.id - Siswa Sekolah Dasar atau SD di Garut, Jawa Barat berinisial FN (12) tewas tertusuk gunting oleh HK teman sebangkunya. 

Penusukan sepulang dari pelajaran kesenian ini dipicu masalah sepele, yakni buku pelajaran HK terjatuh di kolong meja. Perkelahian bocah SD ini dinilai tak wajar, karena berakhir dengan penusukan, kata Psikolog klinis dari Universitas Tarumanegara Denrich Suryadi. 

Namun demikian, kata Denrich, pihaknya juga perlu mengetahui bagaimana cara korban FN bertanya kepada HK saat menanyakan buku pelajaran itu.

"Siswa berusia SD wajar jika dituduh akan merasa marah. Kita tidak tahu persis bagaimana proses almarhum menanyakan perihal bukunya ke pelaku seperti apa. Tetapi, apabila pelaku tersinggung dan marah, itu wajar. Yang tidak benar adalah ketika perkelahian tersebut berakhir dengan penusukan. Jadi yang perlu diperhatikan adalah bagaimana si pelaku tidak mampu mengelola emosinya," kata Denrich, Rabu, 25 Juli 2018.

https://cdn.kriminologi.id/news_picture_thumb/5b42eed05108f-1531113168-0afd7d657f177e8a072a53b2b626c394.jpg

Terkait perilaku agresif HK hingga menewaskan teman sebangkunya, menurut Denrich, bisa jadi agresi itu disebabkan oleh pelaku terbiasa menyaksikan sikap itu di kesehariannya dan itu berimbas terhadap cara dia merespons keadaan.

"Bisa jadi perilaku agresi disebabkan pelaku memang terbiasa menyaksikan perilaku agresivitas atau ia dalam kondisi terpojok sehingga ia marah dan terdorong untuk “menundukkan” pihak almarhum yang dianggap mengganggunya," kata Denrich.

Untuk mengajarkan anak mengelola emosinya, Denrich berujar bahwa peran orang tua sangatlah penting. Bahkan, pengelolaan emosi itu harus diajarkan ke anak sejak usia dini. 

"Orang tua perlu mendidik anak untuk pandai mengelola emosi, perlu untuk mengasah emotional intelligence sejak dini, dan memberikan contoh ekspresi emosi yang tepat dalam keluarga, karena anak adalah makhluk peniru yang luar biasa," kata Denrich.

Selain itu, Denrich menambahkan, orang tua juga harus menanamkan moral yang baik, sehingga anak tahu bagaimana harus bersikap dan berperilaku dalam masyarakat, dalam hal ini sekolah. Sebab, sekolah merupakan lingkungan yang penting bagi anak.

Ia menilai, meski anak sudah mendapatkan pendidikan di sekolah, namun, tanggung jawab pengasuhan dan pendidikan yang paling utama itu ada di orang tua.

"Sekolah hanya mendidik secara akademis dan mendidik moral sebagian kecil saja untuk anak," kata Denrich.

Pengajaran mengelola emosi pada anak itu, kata Denrich, bisa ditunjukkan orang tua dalam kehidupan sehari-hari. Ketika orang tua stres bekerja, mengemudi, atau sulit menghadapi anak, maka anak akan melihat dan meniru ekspresi emosi orang tuanya tersebut.

Maka, jika orang tua tak mampu mengendalikan emosi, maka anak juga akan mengalami kesulitan untuk mengelola emosi. Cara lain untuk mengajarkan anak tentang mengungkapkan ekspresi secara tepat dan sesuai porsinya. 

Orang tua bisa mengajarinya, yakni ketika melayat harus menunjukkan sikap baik dan tidak tertawa atau berteriak-teriak. 

"Dengan cara ini, anak belajar untuk memahami orang lain dan tahu kapan harus berekspresi secara tepat sesuai dengan norma sosial dan budaya. Anak juga belajar untuk menghargai orang lain dan menempatkan diri secara tepat," kata Denrich.

Pendidikan karakter itu sendiri bisa dimulai sejak anak berusia pra sekolah, yakni usia 3 - 5 tahun dan usia sekolah dasar yakni 6 - 12 tahun. Ini merupakan masa penting pendidikan norma sosial dan emosi.

Denrich juga menyoroti peran sekolah terhadap pembentukan pendidikan karakter anak. Ia menegaskan bahwa sekolah tidak bertanggung jawab penuh, sehingga tidak dapat diharapkan untuk mendidik moral anak dalam porsi besar.

"Sebagus apapun kurikulum dan disiplin sekolah, pola asuh dan moral serta relasi dalam keluarga lebih menentukan pembentukan karakter anak. Keluarga itu pemenuhan utama pembentukan karakter anak," kata Denrich. 

Reporter: Yenny Hardiyanti
Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Syahrul Munir
KOMENTAR
500/500