Studi: Anak Korban Kekerasan Seksual Butuh Psikiater Saat Remaja

Estimasi Baca :

Pixabay.com - Kriminologi.id
Ilustrasi anak korban kekerasan seksual. Foto: Pixabay.com

Kriminologi.id - Kasus kekerasan seksual bermunculan seiring kehidupan manusia. Begitu pula dengan perempuan dan anak-anak yang kerap menjadi korban dengan banyaknya kasus tersebut.

Publik kerap tersita perhatiannya dengan adanya kasus-kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak. Menurut penelusuran Kriminologi, kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak paling sadis dan kejam adalah kasus yang menimpa Junko Furuta, remaja asal Jepang berusia 16 tahun. 

Junko Furuta yang lahir pada 22 November 1972 itu diculik, diperkosa dan dibunuh pada 4 Januari 1989. Yang lebih tragis, jenazahnya ditemukan dicor dalam sebuah drum beton yang berisi 208 liter semen.

Pada zamannya, kasus tersebut menjadi perhatian seluruh dunia. Wikipedia mencatat, sekitar tiga buku berbahasa Jepang telah menulis tentang peristiwa sadis itu. Peristiwa mengenaskan itu juga diabadikan dalam sebuah film berjudul “Kasus Pembunuhan Gadis SMA Terbungkus Semen” oleh Katsuya Matsumura pada 1995. 

Mirip dengan peristiwa itu, di Indonesia juga ada kisah mengenaskan serupa yang menimpa Yuyun, siswa Sekolah Menengah Pertama pada bulan April 2016. Pelajar berusia 14 tahun warga Desa Kasie Kasubun, Kecamatan Padang Ulak Tanding, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, itu diperkosa dan dibunuh. 

BACA: Ayah Korban Pencabulan Sempat Damai dengan Anang Duren Sawit

Jenazah korban yang bugil kemudian dibuang di sebuah kebun karet dengan ditutupi dedaunan. Lima pelaku di antaranya Zainal, Tomi Wijaya, M Suket, Bobby, dan Faisal sudah mendapatkan vonis pengadilan. Pelaku utama akhirnya dijatuhi hukuman mati atas perbuatannya itu.

Kasus pencabulan atau yang kerap disebut dengan kekerasan seksual yang melibatkan korbannya anak-anak belakangan kembali marak di Indonesia. Peristiwa terbaru adalah kasus yang menimpa bocah 6 tahun di Duren Sawit, Jakarta Timur, Rabu, 11 Oktober 2017

Tiga orang korban yang masih berusia 3 hingga 10 tahun menjadi korban perilaku bejat seorang pria yang telah memiliki istri dan satu anak. Menurut penuturan korban, pencabulan itu telah dialami ketiganya sejak bulan Agustus 2017 lalu.

Selain mencabuli korbannya, pelaku juga mengiming-imingi korban dengan uang jajan agar tidak menceritakan peristiwa amoral itu kepada orang lain.

BACA: Infografik: Indonesia Darurat Pencabulan Anak

Indonesia bisa dikatakan surga bagi pelaku kekerasan seksual yang mengincar anak-anak. Betapa tidak, Komisi Perlindungan Anak Indonesia atau KPAI mencatat pada 2016 terdapat 120 kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak. Belum habis kalender tahun 2017, KPAI sudah mencatat sebanyak 116 kasus.

“Dalam data kami menyatakan pelakunya adalah orang terdekat anak seperti ayah tiri dan kandung, keluarga terdekat, dan temannya,” kata Komisioner KPAI Jasra Putra seperti dikutip dari kpai.go.id, Kamis, 12 Oktober 2017.

Kekhawatiran kerap muncul jika anak-anak menjadi korban kekerasan seksual. Pertanyaan yang kerap menghinggapi publik, apakah trauma korban kekerasan seksual terhadap anak-anak dapat pulih kembali sejalan dengan usia korban yang makin bertambah? 

Sebuah penelitian di Australia berkesimpulan, sebagian besar anak menjadi korban kekerasan seksual tidak lantas secara otomatis menjadi pelaku kekerasan juga. Namun secara umum, mereka para korban memiliki potensi lima kali lebih besar menjadi pelaku di kemudian hari.

BACA: Bukti Visum Korban Pencabulan yang Bisa Menjerat Anang Duren Sawit

Sejumlah peneliti yang tergabung dalam studi yang dilansir dari abc.net.au, Kamis, 12 Oktober 2017, mengatakan, temuan hasil studi menunjukkan bahwa korban pelecehan seksual pada anak-anak memerlukan lebih banyak bantuan untuk pemulihan, terutama selama masa remaja mereka. Penelitian itu melibatkan lebih dari 2.500 kasus pelecehan seksual anak di Victoria antara tahun 1964 hingga 1995.

Peneliti Margaret Cuttajar, seorang psikolog klinis dan forensik di Monash University mengatakan, penelitian ini merupakan salah satu yang terbesar dan memiliki peran penting.

"Kami menemukan bahwa, menjadi korban pelecehan seksual pada anak-anak memang meningkatkan risikonya (menjadi pelaku)," katanya.

BACA: Pencabulan Duren Sawit, Ayah Korban Kaget Anaknya Dicabuli Teman Kerja

Peneliti lain yang juga menganalisa studi mengatakan, temuan penelitian tersebut menunjukkan bahwa korban pelecehan seksual di masa kecil memerlukan lebih banyak bantuan dari psikolog, psikiater dan pekerja sosial, terutama selama masa remaja.

"Tidak hanya memusatkan perhatian pada trauma pelecehan seksual tapi juga mengajari mereka tentang perilaku seksual yang positif," katanya.

Baca Selengkapnya

Home Sudut Pandang Kata Pakar Studi: Anak Korban Kekerasan Seksual Butuh Psikiater Saat Remaja

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan masuk terlebih dahulu
Silahkan tulis komentar kamu