Ilustrasi: Penikaman Foto: Pixabay.com

Studi: Cemburu, Motif Utama Pelaku Bunuh Kekasihnya

Estimasi Baca:
Jumat, 22 Sep 2017 21:05:43 WIB

Kriminologi.id - Laura Elizabeth Wallen, 31, ditemukan tewas di kawasan hutan dekat Price Distillery Road, Damaskus, sekitar 38 mil barat Washington, Amerika Serikat. Guru Sekolah Menengah Atas Maryland itu diketahui tengah hamil 4 bulan.

Polisi menyimpulkan, Laura tewas dibunuh sebelum ia dilaporkan hilang. Laporan hilangnya Laura karena dirinya tidak mengajar di sekolah, sejak 2 September 2017 lalu, seperti dikutip Dailymail, Jumat, 22 September 2017.

Penyidikan polisi di Montgomery County kemudian mengumumkan, kekasihnya Tyler Tessier, menjadi tersangka dalam kasus pembunuhan itu.

Tessier bahkan pernah mencoba menghilangkan kecurigaan polisi tentang dirinya saat menghadiri sebuah konferensi pers. Di acara itu, Tessier nampak mengumbar kesedihan. Ia nampak berpegangan tangan dengan orang tua Wallen dan berbicara ke publik tentang pacarnya yang hilang.

BACA: Video: 4 Wanita Cantik Tewas Dalam Sepekan karena Asmara

"Laura, jika kamu mendengarkan ini, tidak penting masalahnya apa, bukan soal masalahnya seperti apa. Tidak ada masalah yang tidak bisa kita perbaiki bersama – kamu dan keluargamu," kata Tessier di konferensi pers tersebut.

Tessier dan Laura sendiri sudah sama-sama mengenal sejak 10 tahun lalu. Dalam rentan waktu itu, keduanya menjalani hubungan asmara hingga berbuah kehamilah pada Laura. Namun Laporan Washington Post, menyebutkan bahwa anak yang dikandung korban bukan anak Tessier.

Kisah jalinan asmara Tessier dan Laura yang berakhir tragis bukanlah satu-satunya cerita percintaan yang berakhir dengan kasus pembunuhan.

Baru-baru ini Murtianingsih, yang diketahui seorang pekerja seks komersial (PSK) ditemukan tewas di kamar indekosnya di Istana Laguna nomor 309, Wijayakusuma, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, Kamis 21 September 2017, malam. Saat ditemukan di tubuh korban ditemukan luka. Polisi mencurigai luka tersebut merupakan akibat penganiayaan.

BACA: Pembunuhan Murtianingsih, Sahabat: Agus Larang Nana Terima Pelanggan

Tak lama berselang, kematian Nana, 28, panggilan akrab Murtianingsih, terungkap. Polisi mengamankan tersangka yang tak lain adalah kekasihnya, Agustinus. Agustinus bahkan membuat drama seolah-olah Nana tewas karena sakit. Bahkan ia sempat berencana melarikan korban ke rumah sakit, namun para tetangga yang mencurigainya melaporkan kematian korban ke pihak kepolisian.

Popy, 30, sahabat Murtianingsih mengatakan Agustinus nekat membunuh kekasihnya lantaran rasa cemburu. Menurutnya, selama lebih dari sebulan menjalin hubungan asmara, kisah cinta keduanya berjalan dengan wajar.

Namun pada akhir-akhir hubungan keduanya itu, kekasihnya mulai berubah menjadi sosok yang pengekang.

"Dia mulai reseh, mulai larang-larang, sudah enggak boleh cari duit terima tamu, mengekang, sedangkan kebutuhan kita kan banyak," tutur Poppy saat ditemui di indekos Istana Laguna 52, Jalan Sosial, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, Jumat, 22 September 2017.

BACA: Pembunuhan Murtianingsih, Tetangga Sempat Curiga dengan Agustinus

Dua fragmen kisah pembunuhan yang berlatar romantisme tersebut mewakili banyaknya kasus pembunuhan yang korbannya adalah perempuan. Selain itu kedua kasus itu juga pelakunya merupakan laki-laki yang menjadi kekasihnya. Sebuah studi menyatakan, pembunuhan domestik atau pembunuhan yang dilakukan suami, pacar atau mantan pasangan mereka adalah salah satu jenis pembunuhan yang paling umum dan sering terjadi di Amerika Serikat. Sementara di Inggris, rata-rata dua wanita terbunuh setiap minggu oleh pasangan mereka atau mantan pasangannya.

Kasus-kasus itu didokumentasikan dengan baik oleh Centers for Disease Control and Prevention, sebuah lembaga pengendalian dan pencegahan penyakit yang berbasis di Amerika Serikat. CDC merilis sebuah laporan tentang korban pembunuhan perempuan, seperti dikutip Dailybeast.

Lebih dari 10.000 perempuan terbunuh dalam rentang waktu 2003 hingga 2014 di Amerika Serikat. Lembaga itu menemukan bahwa 55 persen dibunuh di tangan pasangan laki-laki. Sebelumnya, ditemukan pula bahwa hanya 5 sampai 7 persen korban pembunuhan laki-laki, meninggal di tangan pasangan romantisnya, seperti yang ditulis The Atlantic.

Dalam laporan itu juga terungkap bahwa sekitar sepertiga korban perempuan yang dibunuh oleh pasangan mereka bertengkar lebih dulu, sementara 15 persen korban yang dibunuh oleh pasangan mereka tengah hamil.

Yang lebih mencengangkan dari hasil penelitian itu, kekerasan dalam rumah tangga bisa dijadikan sinyal untuk sejumlah jenis kekerasan lainnya, mulai dari terorisme hingga penembakan massal. 

BACA: Satpam Indekos Benarkan Murtianingsih Pelacur 'Online'

Cukup sederhana mengindikasikannya, bahwa pemasalahan kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi bukan hanya menjadi persoalan pribadi antara kedua pasangan. Hal itu akan menjadi sinyal bahaya juga bagi masyarakat luas.

Lain lagi dengan penelitian Robert Hanlon, Direktur Laboratorium Penelitian Psikologi Forensik di Northwestern University Feinberg School of Medicine, Amerika Serikat. Seperti dikutip dari Dailymail, Jumat, 22 September 2017, ia mengatakan kasus pembunuh dalam kategori seperti pelakunya sangat mirip satu sama lain, dan berbeda pada kasus pembunuhan non-rumah tangga.

Dalam penelitian itu Hanlon mewawancarai dan mengevaluasi 153 pembunuh selama lebih dari 1.500 jam. Pesertanya adalah pria dan wanita yang pernah didakwa atau dihukum karena pembunuhan tingkat pertama di Illinois, Missouri, Indiana, Colorado dan Arizona.

Dalam studi tersebut diungkap, bahwa pria yang melakukan pembunuhan seperti itu memiliki penyakit jiwa yang lebih parah dan memiliki gangguan psikologi khusus dibandingkan orang lain. Para pelakunya cenderung kurang cerdas. 

Hanlon juga menyatakan, pelaku pembunuhan biasanya dalam pengaruh narkoba atau alkohol dan sering didorong rasa cemburu atau balas dendam. Orang-orang yang membunuh istri atau anggota keluarga mereka yang disayangi sering melakukannya karena marah dan tanpa rencana terlebih dahulu. AS

KOMENTAR
500/500