Ilustrasi kebakaran. Foto: Pixabay.com

Suami Emosi Bakar Rumah, Sosiolog: Fungsi Pengurus Warga Telah Rusak

Estimasi Baca:
Jumat, 10 Ags 2018 13:05:10 WIB

Kriminologi.id - Perilaku suami emosi membakar rumah hingga menewaskan istri dan dua anaknya itu secara sosiologis berada dalam pribadi yang mengalami keterasingan.

Hilangnya fungsi kepengurusan warga menjadi salah satu faktor pendukung terjadinya aksi emosional kepala keluarga bakar rumahnya sendiri hingga istri dan anaknya tewas terbakar, kata Sosiolog dari Universitas Indonesia Hanny Warouw, Jumat, 10 Agustus 2018. 

"Peran pengurs RT dan RW serta kelurahan sudah tidak ada. Kalau dulu ada tokoh masyarakat yang menjadi tempat mengadu. Sekarang, struktur itu sudah rusak dan dipolitisi," ujarnya. 

Hanny menggambarkan kerusakan yang telah terjadi dalam struktur masyarakat pedesaan. Ia menyebutkan pengalaman di salah satu desa yang hubungan saling berkunjung menjadi langka. 

Masyarakat desa yang bersalaman setiap kali bertemu di jalan pun semakin jarang. Ia menyebutkan situasi seperti ini menandakan rusaknya tradisi among desa yang semula sangat kental dengan silaturahmi dan tegur sapa. 

"Sekarang sudah jarang kita melihat orang saling berkunjung ke rumah, bertegur sapa jika bertemu di jalan dan berjabat tangan. Sekarang bagaimana menanamkan kembali lagi, institusi nasional yang sudah hilang dan rusak," ujarnya.  

Selain itu, Hanny juga menyoroti hubungan komunikasi kurang harmonis dalam internal keluarga pelaku. Hanya karena kehadiran anak tirinya, sehingga pelaku mengambil keputusan yang merugikan banyak pihak. 

Bukan semata bangunan rumah yang menjadi aset keluarga, akan tetapi istri dan anak tercintanya yang sama sekali tidak tersangkut permasalahan tersebut ikut terkena dampaknya. 

"Hubungan (relationnya) tidak begitu tinggi, dia hidup di dalam lingkungannya sendiri. Sehingga dia mengambil keputusan sendiri yang dianggap terbaik," ujarnya. 

Hanny menjelaskan setiap perilaku itu terbentuk berdasarkan tiga sudut, yakni sudut agama, hukum positif dan sosial.

Dari faktor sosial, kata Hanny, kelompok terdekat yakni keluarga dan masyakarat, yakni tetangga bisa menentukan dalam melakukan keputusan. 

"Teman dekat biasanya menjadi pertimbangan dalam melakukan tindakan, atau tetangga. Tetapi, kalau keputusan yang dikeluarkan itu jalan pintas, kemungkinan tidak meminta pertimbangan," ujarnya. 

Secara sosiologi, kata Hanny, hak individu masyarakat yang melakukan kekerasan secara sepihak itu terpengaruh dengan iklim yang ada melalui peniruan-peniruan. 

Alasannya, semakin gencarnya komunikasi terbuka melalui media sosial atau jejaring lainnya yang dahulu tidak sederas saat ini, bahkan tidak ada. 

"Komunikasi semakin terbuka, referensi yang dia lihat dengan membaca, melihat di medsos, sehingga kenekatan seperti itu semakin dilegitimasi, sehingga melakukan itu sebagai jalan keluarnya," ujarnya.

Seperti diketahui, seorang suami berinisial MH (60), nekat membakar rumahnya sendiri lantaran emosi adanya kunjungan anak tiri ke kediamannya.

MH tak terima keberadaan anak istrinya dari suami pertama datang ke rumah hingga dirinya melakukan pembakaran. 

Akibat kebakaran rumah di Kecamatan Pekaitan, Kabupaten Rokan Hilir pada Selasa, 24 April 2018, istri, pembantu dan dua anaknya tewas terbakar. 

Reporter: Syahrul Munir
Redaktur: Syahrul Munir
KOMENTAR
500/500