Ilustrasi film porno, Foto: krimininologi.id

Tren Bisnis Syahwat dan Pergeseran Perilaku Seksual

Estimasi Baca:
Senin, 18 Sep 2017 13:00:35 WIB

Kriminologi.id - Seorang mantan senator negara bagian Oklahoma, Amerika Serikat, menangis di hadapan pengadilan federal. Ralph Shortey membela diri dengan menyatakan tidak bersalah atas perkara yang dituduhkan kepadanya.

Seorang juri utama pengadilan federal, Rabu, 13 September 2017, mendakwa dirinya atas dua kejahatan sekaligus. Ia dituduh melarikan anak di bawah umur dan memproduksi video porno anak-anak, serta tuduhan memperjualbelikannya.

Seperti dikutip dari The New York Times, 18 September 2017, Shortey menghadapi hukuman seumur hidup jika tuduhan itu terbukti. Shortey, lalu mengundurkan diri dari Senat setelah ditangkap pada bulan Maret lalu. Polisi menemukannya di sebuah kamar hotel di pinggiran Oklahoma City Moore bersama seorang anak laki-laki berusia 17 tahun yang diduga disewa untuk melakukan hubungan seks.

Kisah Shortey adalah satu dari banyaknya kasus pornografi yang melibatkan anak-anak di dunia maya dari berbagai belahan dunia. Berkembangnya dunia informasi teknologi belakangan ini banyak dimanfaatkan sejumlah pihak untuk mendulang keuntungan finansial, selain kenikmatan seksual.

BACA: Polisi Tangkap Tiga Tersangka Penjual Video Porno Anak

Di Indonesia, perkembangan dunia digital bahkan kian menjangkau semua kalangan. Remaja dan anak-anak bahkan sudah mengakses internet secara teratur, baik itu untuk mencari informasi, untuk mencari bahan penelitian, atau sekadar mencari hiburan bersama teman-teman mereka.

Dalam studi yang dirilis 2014 hasil kerja sama Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengkonsentrasikan diri terhadap anak-anak (UNICEF), menyebutkan sembilan dari sepuluh anak-anak (89 %) berkomunikasi secara online dengan teman-teman. Sementara kelompok-kelompok yang lebih kecil juga berinteraksi dengan keluarga mereka (56 %) atau guru mereka (35%) melalui internet.

Studi tersebut meliputi kelompok usia 10 sampai 19 tahun. Populasi usia tersebut dianggap paling besar, terdiri dari 43,5 juta anak-anak dan remaja.

Temuan yang lebih mencengangkan terungkap dari penelitian itu. Lebih dari separuh anak-anak dan remaja (52 %) mengatakan mereka telah menemukan konten pornografi melalui iklan atau situs yang tidak mencurigakan, namun hanya 14 % mengakui telah mengakses situs porno secara sukarela.

BACA: Usai Nonton Video Porno, Tukang Sate Cabuli Anak SD

Kecenderungan pengguna untuk memanfaatkan internet, terlebih lagi media sosial, untuk berbisnis lendir juga menarik minat tiga tersangka yang dibekuk pihak Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya.

Tiga tersangka yakni Y, H, dan I yang berasal dari daerah berbeda mampu meraup keuntungan dengan menjual berbagai video yang berisi konten seksual. Yang lebih miris, ketiganya mengkhususkan video porno sesama jenis yang diperankan oleh anak-anak.

Modus yang digunakan ketiga pelaku cukup mudah. Mereka mengunduh video-video seks anak sesama jenis dari berbagai grup Facebook dan grup Whatsapp. Pelaku kemudian menyebarkan video tersebut melalu grup Telegram untuk menjualnya.

Harga yang ditawarkan ketiga tersangka juga sangat, mereka menjual video-video tersebut di grup Telegram dari harga Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. Bahkan, selain pembeli bisa mentransfer uang, mereka yang ingin mengoleksi video-video itu juga bisa mentransfer pulsa.

Dalam kasus tersebut polisi menyita lebih dari 750 ibu foto dan video porno hasil unduhan. Polisi juga menyita buku rekening dan ponsel milik ketiga tersangka.

Menanggapi kasus itu, Dirjen Aplikasi Informatika Kominfo, Semuel A. Pangerapan, seperti dikutip dari kominfo.go.id, menerangkan pihaknya selama kurun 2017, pengaduan berkenaan dengan kekerasan atau pornografi anak mengalami peningkatan sejumlah 31 aduan melalui email yang masuk.

Menanggapi hal itu, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto mengatakan penyebaran video itu menyalahi hukum.

"Penyebaran video pornografi anak-anak di media sosial apapun motifnya tidak dibenarkan secara hukum," kata Susanto di Jakarta, Minggu, 17 September 2017.

Dia menambahkan, berdasarkan pengaduan dan pengawasan KPAI, kata dia, tren kasus kejahatan seksual akhir-akhir ini terus bergeser.

Dulu, lanjut dia, anak perempuan menjadi kelompok rentan, tapi dewasa ini anak laki-laki juga memiliki kerentanan yang sama. Bahkan dari sejumlah kasus kejahatan seksual yang ada, trennya menyasar anak laki-laki. AS

KOMENTAR
500/500