Tren Bunuh Diri Loncat dari Apartemen, Singapura-Hongkong Menyeramkan

Estimasi Baca :

Ilustrasi bunuh diri. Ilustrasi: Kriminologi.id - Kriminologi.id
Ilustrasi bunuh diri. Ilustrasi: Kriminologi.id

Kriminologi.id - Seorang perempuan bernama Ana Yuli Santi alias Geby melompat dari lantai 8 Tower Damar Apartemen Kalibata City pada 23 April 2018. Geby bukan satu-satunya perempuan yang nekat bunuh diri dengan loncat dari gedung-gedung tinggi.

Bulan Februari lalu juga ditemukan seorang perempuan bernama Yeni juga bunuh diri dengan melompat dari gedung WTC Mangga Dua, Jalan Gunung Sahari, Ancol.

Ada juga remaja cantik Stephanie Broadmeadow yang memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat dari lantai 38 Apartemen Kemang Village, Jakarta Selatan. Diduga masalah asmara melatari Stephanie mengakhiri hidupnya.

Berdasarkan penelitian di Asia, cara bunuh diri loncat dari apartemen atau gedung tinggi itu merupakan cara ketiga. Namun cara melompat dari gedung tinggi ini palinig favorit dilakukan oleh orang yang bunuh diri di Singapura dan Hongkong. 

Jumlah angka bunuh diri dengan melompat dari gedung tinggi ini pun meningkat 5 kali lipat dalam penelitian tahun 1960-an. Bagaimana dengan Indonesia?  

Secara sekilas terlihat begitu seringnya rangkaian peristiwa bunuh diri terjadi di Indonesia. Namun, menurut data yang dikeluarkan World Health Organization (WHO) angka bunuh diri di Indonesia belum terlalu menyeramkan seperti Hongkong dan Singapura.

Bunuh diri dengan cara lompat dari gedung tinggi di Indonesia masih tergolong rendah. Pada tahun 2015 memiliki angka bunuh diri 2,9 artinya ada 2,9 orang yang melakukan bunuh diri dari 100 ribu populasi.

Ini menempatkan Indonesia sebagai negara terendah angka bunuh dirinya di Asia Tenggara. Hal ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan Sri Lanka yang merupakan negara dengan angka bunuh diri tertinggi di dunia. Sri Lanka memiliki angka bunuh diri 35,3 per 100 ribu populasi.

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Kevin Chien-Chang Wu dkk tentang cara bunuh diri yang dilakukan di 17 negara Asia, namun tidak termasuk Indonesia, menunjukkan bahwa cara yang paling sering dilakukan adalah meminum racun dan gantung diri.

Hasil penelitian yang dituliskan dalam International Journal of Environmental Research and Public Health dengan judul Suicide Methods in Asia: Implications in Suicide Prevention juga menunjukkan bahwa cara bunuh diri dengan melompat dari gedung tinggi merupakan cara ketiga yang sering dilakukan di Asia. Khusus di Hong Kong dan Singapura, cara bunuh diri yang paling popular justru melompat dari gedung tinggi.

Penelitian yang dilakukan oleh David Lester di Singapura menemukan bahwa terdapat hubungan antara peningkatan jumlah masyarakat yang tinggal di apartemen dengan peningkatan peristiwa bunuh diri dengan melompat.

Pada tahun 1960, persentase masyarakat yang tinggal di apartemen adalah 9,1 persen dan mengalami lonjakan sangat signifikan mencapai 51 persen pada 1976. Tulisan David Lester ini dipublikasikan dengan judul Suicide by Jumping in Singapore as A Function of High-Rise Apartment Availability.

Sedangkan angka bunuh diri dengan melompat dari gedung apartemen pada 1960 adalah 1,43 per 100 ribu populasi. Angka ini juga mengalami peningkatan signifikan mencapai 5,71 per 100 ribu populasi. Selain itu, jika dilihat persentasenya, bunuh diri dengan melompat dari gedung juga meningkat secara signifikan dari 16,6 persen pada 1960 ke 51 persen pada 1976.

Di sisi lain, dalam penelitian ini juga melihat angka bunuh diri dengan cara lainnya mengalami penurunan dari 7, 71 per 100 ribu ke 5,49 per 100 ribu populasi.

Penelitian lebih baru yang dilakukan oleh Yu-Lin Chi dkk di Taiwan terkait masalah hubungan antara gedung tinggi dengan tingkat bunuh diri dengan cara melompat. Penelitian yang berjudul Commentary to The Correlation Between Availability of High-Rise Buildings and Suicide by Jumping in Taiwan ternyata juga mengkonfirmasi adanya hubungan antara peningkatan jumlah gedung-gedung tinggi berpengaruh pada tindakan bunuh diri yang dilakukan dengan melompat.

Penelitian Yu-Lin Chi dkk yang dipublikasikan pada tahun 2011 itu membandingkan antar distrik yang kemudian hasilnya menunjukkan bahwa distrik yang memiliki banyak gedung tinggi ternyata angka bunuh diri dengan melompat juga lebih tinggi dibandingkan distrik lainnya.

Jika dilihat untuk di Jakarta sendiri menurut data yang dilansir dari skyscrapercenter.com memiliki 390 gedung tinggi dan menempatkan Jakarta sebagai kota yang memiliki gedung pencakar langit terbanyak ke-13 di dunia.

Ketersediaan gedung-gedung pencakar langit inilah yang mempengaruhi pemilihan cara bunuh diri dengan melompat dari gedung. Namun belum ada penelitian khusus yang menyoroti pertumbuhan pesat gedung pencakar langit dengan kasus bunuh diri di Jakarta. 

Baca Selengkapnya

Home Sudut Pandang Kata Pakar Tren Bunuh Diri Loncat dari Apartemen, Singapura-Hongkong Menyeramkan

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan masuk terlebih dahulu
Silahkan tulis komentar kamu