Malingering Ala Setya Novanto Versus AM Fatwa

Estimasi Baca :

Ilustrasi Setya Novanto mogok bicara. Ilustrasi: Kriminologi.id - Kriminologi.id
Ilustrasi Setya Novanto mogok bicara. Ilustrasi: Kriminologi.id

Kriminologi.id - Anggota Dewan Perwakilan Daerah Andi Mappetahang Fatwa atau AM Fatwa meninggal, Kamis, 14 Desember 2017. Ia meninggal di usia 78 tahun setelah berjuang melawan kanker hati.

AM Fatwa merupakan politikus yang pernah menjadi tahanan politik karena mengkritisi era Orde Baru. Terakhir ia divonis 18 tahun penjara dari tuntutan seumur hidup. Namun hukuman itu dijalani selama 9 tahun dan dilanjutkan dengan tahanan luar hingga pada akhirnya mendapatkan amnesti.

Meninggalnya AM Fatwa mengingatkan psikolog forensik Reza Indragiri Amriel pada drama sidang perdana Setya Novanto dalam kasus e-KTP. Itu terutama ketika melihat dan mendengar Setya Novanto kerap mengeluh sakit saat sidang di Pengadilan Tipikor, Rabu, 13 Desember 2017.

Reza mengatakan berpura-pura sakit atau malingering merupakan hal yang biasa dilakukan oleh seorang terdakwa.

"Yang mutakhir, terdakwa (Setya Novanto) mengaku diare, tapi gejalanya tidak sama dengan orang kebanyakan," kata Reza dalam keterangan tertulis kepada Kriminologi, Jakarta, Sabtu, 14 Desember 2017.

Baca: Berkaca dari Setnov, KPK: Tersangka Korupsi Jangan Beralasan Sakit

Malingering merupakan perilaku berpura-pura sakit atau dengan sengaja mengkondisikan diri dalam sakit jika dilakukan secara berulang dan merupakan pola yang menetap.

Malingering merupakan salah satu gangguan mental. Malingering juga bisa diartikan sebagai tindakan lari dari tanggung jawab atau untuk mendapatkan keuntungan dari perbuatan itu sendiri.

Istilah malingering juga sudah biasa dikomentari warganet sejak Setya Novanto beralasan sakit saat diperiksa sebagai tersangka pertama kali oleh KPK. Tudingan itu juga semakin kuat ketika Setya Novanto mengalami kecelakaan di kawasan Jakarta selatan, usai KPK menjemput paksa.

Reza mengatakan, drama sakit juga pernah dilakukan AM Fatwa ketika duduk sebagai terdakwa. Hal itu diceritakan AM Fatwa dalam bigorafinya yang dibaca Reza saat berjumpa dengan almarhum di ruang kerjanya di gedung DPR/MPR tahun 2004.

"Fatwa bercerita, di penjara dia diazab habis-habisan. Sakit ketulungan. Tapi seterusnya, Fatwa masih cukup sehat untuk bersiasat di pengadilan," ujar Reza.

Hal yang paling dramatis adalah saat duduk di kursi terdakwa, Fatwa mengguyung-guyungkan badannya. Tak lama Fatwa ambruk ke lantai ruang persidangan. Tak hanya ambruk, kelamin Fatwa juga bahkan terlihat jelas. Melihat itu, majelis pun memutuskan sidang ditutup. Reza mengatakan AM Fatwa seperti sukses mengelabui hakim.

"Malingering-kah itu? Episode di ruang sidang itu seperti partial malingering. Memang sakit, tapi tanda-tanda kesakitannya dibikin heboh," kata Reza.

Baca: Kuasa Hukum Setya Novanto Terima Kekalahan di Praperadilan

Reza mengatakan angota DPR harus belajar dari AM Fatwa. Selain kritis, juga harus dekat dengan agama, intelktual, berpihak pada rakyat, bersih dan teguh pendirian.

"Kalau kebetulan yang bersangkutan dipidana, jadilah pesakitan yang cerdas dalam beratraksi malingering. Diare itu problemnya di perut dan saluran pembuangan, bos. Bukan di kuping, otak atau di kerongkongan," ucap Reza.

Sejak sidang perdana dibuka, Setya Novanto mengeluh sakit. Bahkan terjadi perdebatan panas antara kuasa hukumnya dan jaksa KPK. Setya Novanto mengeluh diare selama 20 kali semalam sebelum sidang. Kuasa hukumnya juga menyebut jika Setnov mengalami ataksia.

Setnov juga kerap bisu saat ditanya majelis hakim, dan kuasa hukumnya menyebut itu karena kondisinya yang tidak stabil. Sidang ini diwarnai skors tiga kali. Setya Novanto bolak-balik masuk toliet hingga dinyatakan sehat oleh dokter dan sidang pun dilanjutkan.

Baca: KPK Dituding Tak Adil, Hilangkan Nama 3 Politikus PDIP dalam Dakwaan

Menurut KPK, aksi mogok bicara itu menjadi catatan dan pertimbangan apakah nanti akan menjadi faktor yang memberatkan Setya Novanto dalam tuntutan nantinya.

"Saya kira hakim juga akan mencatat dan mempertimbangkan hal tersebut. Jadi, kami juga mengajak pihak Setya Novanto untuk menghormati kewibawaan pengadilan dengan fokus pada proses pembuktian sesuai dengan hukum acara yang berlaku," kata juru bicara KPK, Febri Diyansah di KPK, Jumat, 15 Desember 2017.

Menurut KPK, kata Febri aksi mogok bicara itu bisa dinilai sebagai hal yang menghambat penanganan perkara e-KTP. Karena itu KPK mengharapkan agar Setya Novanto kooperatif dalam persidangan berikutnya.

"Kami perlu mengingatkan bahwa hal tersebut memiliki risiko hukum yang cukup serius karena diatur di Pasal 21 Undang-Undang Tipikor, yaitu obstruction of justice dengan ancaman pidana 3 sampai 12 tahun," tutur Febri. NL

 

Baca Selengkapnya

Home Sudut Pandang Malingering Ala Setya Novanto Versus AM Fatwa

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan masuk terlebih dahulu
Silahkan tulis komentar kamu