Ilustrasi tes kejiwaan. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Mengenal Bipolar, Penyakit yang Menyelamatkan Pengemudi CRV

Estimasi Baca:
Minggu, 26 Nov 2017 12:00:27 WIB

Kriminologi.id - Video pengendara mobil CRV berwarna putih yang menyeruduk beberapa kendaraan lainnya di sepanjang Jalan Sudirman pada Selasa 21 November 2017 sempat viral di media sosial. Pengendara mobil tersebut adalah seorang perempuan bernama Tanita Felycia. Walaupun sempat diduga melarikan diri, namun masyarakat dan polisi segera bertindak untuk mengamankan pelaku.

Rupanya setelah melalui pemeriksaan, keluarga pelaku menyerahkan kartu berwarna kuning yang berisikan keterangan bahwa Felycia menderita gangguan mental yang disebut dengan bipolar. Berdasarkan pengakuan itu, polisi pun membebaskan Felycia.

Baca: Mengidap Bipolar, Pengemudi CRV Ugal-ugalan Dibebaskan

Memang berdasarkan pasal 44 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana disebutkan masalah pertanggungjawaban pidana dan pada pasal 44 ayat 1 juga dinyatakan bahwa seseorang yang mengalami gangguan kejiwaan tidak dapat dipidana.

“Barang siapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggungkan kepadanya karena jiwanya cacat dalam pertumbuhan atau terganggu karena penyakit, tidak dapat dipidana.”

Inilah yang kemudian dijadikan dasar untuk membebaskan Tanita Felycia dari ancaman pidana. Sebenarnya pada pasal 44 ayat 2 dan 3 juga disebutkan juga penjelasan yang berhubungan dengan pasal 44 ayat 1.

Pasal 44 ayat 2

Jika ternyata perbuatan itu tidak dapat dipertanggungkan kepada pelakunya karena pertumbuhan jiwanya cacat atau terganggu karena penyakit, maka hakim dapat memerintahkan supaya orang itu dimasukkan ke rumah sakit jiwa, paling lama satu tahun sebagai waktu percobaan.”

Pasal 44 ayat 3

Ketentuan dalam ayat 2 hanya berlaku bagi Mahkamah Agung, Pengadilan Tinggi, dan Pengadilan Negeri.”

Menjelaskan perkara diatas, R. Soesilo dalam bukunya yang berjudul Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal demi Pasal dijelaskan yang memiliki kewenangan untuk menentukan tentang bisa tidaknya seorang terdakwa mempertanggungjawabkan perbuatannya adalah hakim, walaupun dengan meminta nasihat dari ahli atau dokter penyakit jiwa.

Infografik Mengenal Bipolar. Foto: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Gangguan Kejiwaan Bernama Bipolar

Kembali pada kasus Felycia yang dikatakan mengidap gangguan jiwa bernama bipolar maka ada baiknya juga untuk mengenal gangguan seperti apa sebenarnya bipolar ini.

Psikolog Universitas Indonesia, Edo S. Jaya menjelaskan kepada kriminologi, Bipolar adalah salah satu bentuk gangguan kejiwaan dimana orang yang mengidapnya memiliki mood yang naik dan turun secara ekstrim.

“Secara sekilas, bipolar adalah gangguan kejiwaan yang cukup berat ditandai utamanya dengan dengan kedua polar mood yang ekstrim, yaitu mood depresif dan mania. “ ujarnya.

Edo juga menambahkan penjelasan terkait dengan mood depresif dan mania. Mood depresif memiliki ciri-ciri seperti murung, menutup diri, menjauhi orang, merasa tidak ada masa depan, suka susah tidur, dan kadang berpikir bahwa hidupnya tidak lagi berguna. Inilah kemudian yang menyebabkan penderita memiliki pemikiran untuk bunuh diri.

Sedangkan mood mania memiliki ciri-ciri yang berkebalikan, misalnya penderita menjadi sangat riang, gembira, merasa hebat, merasa kebal, tidak bisa kalah atau sakit, dan seringkali melakukan hal-hal beresiko, seperti berjudi, ngebut-ngebutan, dan/atau melakukan perilaku seks berisiko.

Baca: Idap Bipolar, Tanita Bawa Kabur Mobil Orang Tua

Pada tulisan berjudul Bipolar Disorder yang dipublikasikan oleh National Institute of Mental Health Amerika Serikat disebutkan tentang penyebab gangguan Bipolar ini. Bipolar tidak disebabkan satu faktor yang berdiri sendiri. Misalnya saja faktor genetik yang bisa saja berkontribusi terhadap munculnya gangguan bipolar walaupun tidak semua orang di keluarga tersebut mengidap bipolar. Selain itu, struktur otak dan fungsional otak juga dapat mempengaruhi munculnya gangguan bipolar pada individu.

Sebenarnya gangguan bipolar memiliki beberapa tingkatan yang menunjukkan parahnya gangguan kejiwaan tersebut kepada individu. Biasanya, pada individu dengan bipolar yang parah akan menunjukkan gejala yang disebut disorganized behavior.

Disorganized behavior misalnya dia nggak pake baju, kalo berbicara pun kalimat-kalimatnya tidak jelas dan susah dimengerti. Mudahnya, struktur kalimatnya tidak lengkap SPOKnya.” ujar Edo yang menamatkan pendidikan doktoralnya di Universitas Hamburg, Jerman.

Mendeteksi gangguan kejiwaan tak ubahnya seperti mendeteksi penyakit pada umumnya yaitu memerlukan pemeriksaan secara medis. Walaupun pemeriksaan medis yang dilakukan tentu saja berbeda baik cara, metode, dan alat yang digunakan. Untuk mendiagnosis gangguan kejiwaan tertentu perlu dilakukan wawancara klinis.

 Proses untuk mendiagnosis gangguan maupun penyakit kejiwaan juga tidak bisa sekali dilakukan sebab untuk mendapatkan diagnosis yang akurat dibutuhhkan lebih dari sekali pertemuan wawancara antara psikolog atau psikiater dengan pasien.

Baca: Alasan Polisi Periksa Kejiwaan Seorang Pelaku Kejahatan

“Wawancara klinis 2 sampai 3 kali sudah bisa akurat diagnosisnya. Satu pertemuan kira-kira satu jam.” kata Edo yang juga berprofesi sebagai dosen di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Penanganan bipolar sendiri dapat dilakukan dengan melibatkan psikolog atau psikiater. Penanganan yang dilakukan oleh psikolog lebih pada terapi cognitive behavior sedangkan untuk psikiater penanganannya disertai dengan memberikan resep obat tertentu pada pasiennya. Walaupun memang tidak semua gangguan kejiwaan membutuhkan penanganan dengan obat-obatan.

Edo menambahkan, “Beberapa gangguan kejiwaan penanganannya butuh disertai dengan obat-obatan. Misalnya seperti Bipolar dan Skizofrenia itu butuh obat.”

Jika dikaitkan dengan masalah sadar-tidaknya pasien dalam melakukan tindakan-tindakannya sebenarnya tidak mudah. Hal itu bergantung pada seberapa parah gangguan kejiwaan yang dialami pasien tersebut. Sehingga memang dibutuhkan pemeriksaan yang lebih seksama.

KOMENTAR
500/500