Peredaran Video Porno dan Objektifikasi Tubuh Perempuan

Estimasi Baca :

Foto: Pixabay.com - Kriminologi.id
Ilustrasi Pembuatan Video, Foto: Pixabay.com

Kriminologi.id - Beredar sebuah video bermuatan pornografi viral di media sosial. Salah seorang yang terekam dalam video tersebut diduga adalah lulusan kampus Universitas Indonesia. Sejak video tersebut viral, banyak akun-akun palsu di media sosial yang akhirnya muncul dengan mengatasnamakan mahasiswi berinisial HA tersebut.

Kasus-kasus video porno beredar secara luas bukan sekali ini terjadi. Bahkan ada beberapa kasus yang menyita perhatian publik. Misalnya kasus Ariel Noah yang terjadi pada tahun 2010 dan kasus video porno berjudul Bandung Lautan Asmara yang diduga melibatkan mahasiswa Bandung, Jawa Barat, pada 2001.

Baca: Polisi Telusuri Beredarnya Video Porno yang Diduga Mahasiswi UI

Rekaman video yang bermuatan pornografi seringkali dibuat untuk konsumsi pribadi, namun dengan berbagai cara dan alasan akhirnya video-video tersebut viral dan menjadi konsumsi publik.

Salah satu modus yang biasa terjadi berkaitan dengan penyebaran video porno, pihak laki-laki memiliki peran dominan ketimbang perempuan. Seringkali laki-laki gemar memamerkan video tersebut kepada teman-temannya sendiri.

Kriminolog Universitas Indonesia, Kisnu Widagso menyatakan, seringkali laki-laki merasa seolah-olah menjadi seorang pemenang ketika bisa melakukan aktifitas yang sarat muatan pornografi dengan pasangannya.

“Ini yang disebut objektifikasi pada perempuan. Berhasil begituan sama pacarnya atau sama perempuan (rasanya) kayak dapat piala. Jadi video itu bukti buat dipamerkan ke teman-temannya kalau dia bisa, kalau dia jago atau kalau dia keren, lah,” ujar Kisnu.

Menilik kata objektifikasi yang digunakan oleh kriminolog ini, Frederickson dan Roberts dalam tulisan yang berjudul Objectification Theory: Toward Understanding Women's Lived Experiences and Mental Health Risks, mengungkap bahwa kerap dianggap sebagai barang, bukan sebagai individu. Tulisan ini dipublikasikan dalam Journal Psychology of Women Quarter edisi ke 21 pada 1997.

Baca: UI Klarifikasi Mahasiswi yang Disebut dalam Video Porno

Dalam tulisan tersebut menyatakan, konsep objektifikasi adalah suatu kerangka berpikir yang melihat tubuh perempuan atau bagian dari tubuh perempuan sebagai barang atau hal yang terpisah dari keseluruhan perempuan sebagai manusia itu sendiri.

Kisnu Widagso yang tengah mendalami Hybrid Policing dalam Penanganan Kejahatan Cyber ini mengungkapkan, dalam konteks objektifikasi, perempuan justru dianggap sebagai barang bukan lagi dianggap sebagai individu. Perempuan diumpamakan layaknya piala yang dapat dipamerkan karena tindakan yang telah dilakukan.

Infografik Peredaran Video Porno dan Objektifikasi Tubuh Perempuan. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Mirisnya, perasaan senang sebagai pemenang perlombaan hanya dirasakan oleh laki-laki saja. Sedangkan perempuan harus menerima rasa malu ketika tahu tindakannya tersebar dan diketahui oleh teman juga keluarganya.

Belum lagi peran media yang acapkali menyudutkan perempuan. Dalam kasus-kasus video porno ini justru yang banyak dirugikan adalah perempuan. Media pun berperan membentuk stigma negatif terhadap perempuan yang terlibat dalam kasus video porno ini.

Terkait dengan hal ini, Kalra dan Bhugra di tulisan Sexual Violence Against Women: Understanding Cross-Cultural Intersection dalam situs ncbi.nlm.nih.gov menyatakan bahwa dalam budaya negara-negara Asia terdapat anggapan yang begitu tinggi terhadap keperawanan dan masalah seksual perempuan. Inilah kemudian yang mendorong media dan masyarakat untuk menyudutkan perempuan.

Baca: Rekam Video Porno, Pelaku Peras Korban Rp 400 Juta

Padahal yang seringkali justru dilupakan adalah bahwa perempuan adalah korban. Perempuan dianggap sebagai objek dan mendapatkan stigma negatif masyarakat dari tindakan yang dilakukannya.

Akibatnya, perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual cenderung menutup diri karena malu dengan lingkungan sekitarnya. Belum lagi tindakan netizen yang menyerang akun media sosial personal milik korban. Rasa malu tersebut bisa saja meningkat menjadi depresi yang kemudian dapat berujung dengan tindakan bunuh diri.

Pernyataan-pernyataan tersebut dibenarkan oleh Colucci dan Montesinos dalam tulisannya yang berjudul Violence Against Women and Suicide in the Context of Migration: A Review of the Literature and A Call for Action pada 2013 yang dipublikasikan di situs suicidology-online.com. AS

Baca Selengkapnya

Home Sudut Pandang Peredaran Video Porno dan Objektifikasi Tubuh Perempuan

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan masuk terlebih dahulu
Silahkan tulis komentar kamu