Persekusi Anak: Tingkah Laku Dipengaruhi Perilaku Orang Lain

Estimasi Baca :

Ilustrasi Anak Pelaku Kekerasan, Foto: Pixabay.com - Kriminologi.id
Ilustrasi Anak Pelaku Kekerasan, Foto: Pixabay.com

Kriminologi.id - nggahan status media sosial dari akun yang mengatasnamakan diri Bearo Zalukhu menjadi viral. Dalam status tersebut, seorang siswa JZS diceritakan mengalami persekusi yang dilakukan oleh teman-temannya sendiri di SDN 16 Pekayon, Jakarta Timur. 

Dia dicap sebagai Ahok oleh teman-temannya di sekolah. Secara fisik, JZS memang memiliki mata yang sipit dan kulit yang putih sehingga memiliki kemiripan dengan mantan gubernur DKI Jakarta itu. Padahal JZS sebenarnya adalah keturunan Nias, Sumatera Utara.

Ibu korban, Albina juga mengisahkan bahwa anaknya menjadi cemoohan dan pernah suatu saat tangan JZS ditusuk pena oleh temannya. Selain itu, ibu korban juga pernah melihat anaknya ditonjok di dalam barisan dan dia juga melihat bahwa guru yang ada di sana tidak berbuat apa-apa.

Baca: Trauma Dirisak, Murid SD di Jakarta Timur Tak Sekolah Sepekan

Berdasarkan penjelasan Bearo Zalukhu dalam status tersebut, JZS adalah satu-satunya siswa yang beragama Katolik di sekolah tersebut. Gara-gara agamanya yang berbeda ini, dia harus menggambar di pelataran teras tempat ibadah. Padahal semua teman-temannya ada di dalam tempat ibadah tersebut. JSZ tidak diperbolehkan masuk oleh teman-temannya karena agamanya yang berbeda.

Melihat hal ini, sebenarnya tindakan-tindakan kekerasan verbal dan fisik yang dilakukan oleh teman-teman JZS dapat dikategorikan sebagai kejahatan kebencian atau hate crime.

Menurut Federal Bureau Investigation (FBI), hate crime adalah tindak kekerasan dan kejahatan yang terjadi atas dasar kebencian terhadap ras dan suku tertentu, agama tertentu, warna kulit, dan asal kewarganegaraan korbannya.

Kasus yang dialami oleh JZS terjadi karena dia memiliki warna kulit yang berbeda dengan teman-temannya, tampilan fisik yang berbeda, dan agama yang berbeda pula dengan teman-temannya. Sehingga apa yang dilakukan oleh teman-temannya ini adalah bentuk tindakan hate crime.

Ibunda JZS menambahkan bahwa teman-temannya sering meneriakkan kalimat bunuh Ahok. Artinya karena dikelas tersebut, JZS yang disebut Ahok maka mereka ramai-ramai menyakiti dan menganiaya JZS baik secara fisik, verbal, dan psikis. Akhirnya JZS tidak mau pergi ke sekolah selama dua minggu terakhir.

Baca: Korban Persekusi di Pekayon Gerah Disebut Mirip Ahok

Seorang peneliti psikologi yang secara khusus mengkaji kenakalan remaja, Albert Bandura memaparkan teori yang bernama Social Learning Theory atau yang disebut juga dengan teori belajar sosial. 

Dalam teroti tersebut menyebutkan bahwa tingkah laku dipelajari dan dipengaruhi oleh tingkah laku orang lain. Dalam bukunya yang berjudul sama, Bandura menyatakan bahwa tingkah laku dipelajari melalui observasi dan kemudian terjadi imitasi terhadap tingkah laku tersebut.

Bandura juga menjelaskan terdapat empat proses pembelajaran tingkah laku yaitu attention, retention, reproduction, dan motivation. Attention atau perhatian adalah proses dimana individu memperhatikan perilaku beberapa orang yang dianggap sebagai model.

Sementara Retention atau pengendapan sebenarnya adalah proses diendapkannya informasi-informasi perilaku yang telah diamati sebelumnya di dalam ingatan dan mengeluarkannya saat dibutuhkan.

Reproduction adalah tindakan individu mereproduksi atau menampilkan kembali perilaku-perilaku yang telah diamati sebelumnya. Motivation adalah tindakan berupa hadiah atau penghukuman bagi individu yang telah mencontoh dan menampilkan kembali suatu perilaku yang telah diamati sebelumnya.

Anak-anak merupakan pembelajar yang baik. Jika kita ingat ada pepatah yang menyatakan bahwa “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari” yang sebenarnya menggambarkan bahwa anak-anak akan mencontoh apa yang dilakukan orang dewasa. Membuktikan pepatah tersebut, Bandura melakukan percobaan sosial yang dinamakan Bobo Doll Experiment pada 1961.

Pada percobaan tersebut, anak-anak akan ditinggal di suatu ruangan dengan sebuah boneka yang akan kembali berdiri lagi setelah dikenai tindakan apa pun. Beberapa anak diperlihatkan tindakan orang dewasa yang dilakukan dengan boneka tersebut diruangan.

Perilaku yang diperlihatkan pada anak adalah perilaku kekerasan dan agresif dengan sasaran boneka tersebut. Orang dewasa memukul dengan tangan kosong dan bahkan menggunakan palu untuk memukul boneka tersebut.

Baca: Hindari Saling Benci Sejak Kecil, Cari Akar Permasalahan Persekusi

Respon mengejutkan muncul ketika anak-anak yang dipertontonkan perilaku tersebut ternyata melakukan tindakan dan perilaku yang sama seperti apa yang orang dewasa lakukan. Bahkan anak-anak ini juga menggunakan palu dalam memukul boneka tersebut. Artinya memang apa yang dilakukan anak-anak adalah hasil dia melihat dan mempelajari apa yang dilakukan oleh orang dewasa.

Selain itu, respon dari lingkungan sekitar baik postif ataupun negatif terhadap suatu perilaku juga sangat berpengaruh. Respon positif terhadap tindakan yang sebenarnya adalah tindakan buruk seperti kekerasan dan agresifitas, ketika mendapatkan apresiasi dari lingkungan sekitarnya akan membentuk informasi bagi anak bahwa perilaku tersebut adalah perilaku yang baik. Begitu pula sebaliknya.

Masih segar di ingatan tentang sebuah video yang menjadi viral pada bulan Mei 2017 dimana pawai obor menyambut ramadhan diwarnai jargon-jargon tidak biasa. Kalimat “Bunuh Ahok” dinyanyikan oleh anak-anak dengan nada lagu Menanam Jagung karya Ibu Sud.

Tentu saja kalimat jargon tersebut tidak serta merta diucapkan anak-anak begitu saja, pasti ada pihak-pihak yang mempelopori dan mencontohkan jargon tersebut. Besar kemungkinan yang melakukannya adalah orang dewasa.

Maka wajar saja ketika Ibunda JZS menyatakan bahwa teman-teman di kelas anaknya juga menyerukan jargon yang sama. Sayangnya, JZS yang di cap sebagai Ahok akhirnya harus menerima konsekuensi atas jargon tersebut.

Anak-anak dapat melihat dan mempelajari tindakan yang dilakukan oleh orang dewasa di sekitarnya. Bagaimana apresiasi masyarakat sekitarnya terhadap tindakan-tindakan tertentu.

Proses pembelajaran perilaku ini mereka dapatkan baik secara langsung melihat perilaku dan penghargaan terhadap tindakan tertentu maupun secara tidak langsung melalui televisi.

Melihat perilaku masyarakat selama hampir setahun terakhir ini rupanya dapat dikatakan telah berhasil mendidik anak-anak seperti yang telah dicontohkan.

Mereka melihat dan merekam perilaku-perilaku yang ditunjukkan oleh orang dewasa. Maka tidak perlu heran, justru apa yang terjadi pada JZS di sekolahnya adalah bukti dari keberhasilan pembelajaran tersebut.

Baca Selengkapnya

Home Sudut Pandang Persekusi Anak: Tingkah Laku Dipengaruhi Perilaku Orang Lain

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan masuk terlebih dahulu
Silahkan tulis komentar kamu