Riset: 5 Tipe Pembunuhan di Dalam Keluarga

Estimasi Baca :

pixabay.com - Kriminologi.id
Ilustrasi Pembunuhan, Foto: pixabay.com

Kriminologi.id - Randi Syahputra akhirnya meregang nyawa di tangan adiknya sendiri. Berawal dari teguran adiknya, peristiwa ini berujung dengan meninggalnya Randi. Peristiwa ini terjadi pada 11 November 2017 di rumah mereka yang terletak di daerah Meruya Utara, Kembangan, Jakarta Barat.

Keesokan harinya, Grenial Wijaya yang berusia 5 tahun di daerah Jakarta Barat tewas di rumah sakit pada 12 November 2017. Grenial tewas diduga akibat penyiksaan yang dilakukan oleh ibunya sendiri. Peristiwa ini bermula karena sang ibu kesal lantaran anaknya sering mengompol.

Baca: Sering Ngompol, Novi Tega Aniaya Anak Kandungnya Hingga Tewas

Sebelumnya juga terjadi kasus pembunuhan yang cukup menghebohkan antara pasangan suami istri pada 9 November 2017. Dokter Letty Sultri ditemukan tewas ditembak di tempat praktiknya yaitu Klinik Az-Zahra Medical Centre, Cawang, Jakarta Timur. Pelaku penembakan adalah suaminya sendiri yang bernama dr. Ryan Helmi. Peristiwa ini terjadi karena Helmi tidak mau diceraikan korban.

Kasus-kasus yang disebutkan adalah gambaran kecil tentang pembunuhan yang terjadi antar anggota keluarga. Terlihat bahwa dalam empat hari saja terdapat tiga kasus pembunuhan yang melibatkan anggota keluarga.

Jenny Mouzos dan Catherine Rushforth dalam tulisannya Family Homicide in Australia menyebutkan bahwa terdapat 2 dari 5 kasus pembunuhan yang melibatkan anggota keluarga di Australia. Rata-rata terdapat 129 keluarga yang terlibat pembunuhan setiap tahunnya.

Muozos dan Rushforth juga mengklasifikasi pembunuhan yang terjadi antar anggota keluarga. Ada 5 klasifikasi yaitu intimate partner, filicide, parricide, siblicide, dan keluarga lainnya.

Sebutan intimate partner mengacu pada pembunuhan yang dilakukan oleh pasangan suami istri ataupun mereka yang telah tinggal serumah. Pada pembunuhan pasangan ini ditemukan bahwa 75 persen pelakunya adalah laki-laki dan korbannya adalah perempuan.

Laki-laki memiliki kecenderungan yang lebih besar dalam membunuh pasangannya. Pembunuhan pasangan ini juga merupakan pembunuhan terbanyak yang terjadi di dalam keluarga. Australia sendiri mencatat bahwa pembunuhan pasangan menyumbang 60 persen dari semua pembunuhan yang terjadi di dalam keluarga.

Baca: Sebelum Tewas Ditembak Suami, Dokter Letty Pernah Melapor Kasus KDRT

Sedangkan filicide mengacu pada pembunuhan yang dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya. Orang tua di sini tidak hanya orang tua kandung saja tetapi juga orang tua tiri. Pada pembunuhan anak-anak ini masalah jenis kelamin anak tidak berpengaruh terhadap tinggi rendahnya pembunuhan.

Justru masalah usia yang berpengaruh, menurut penelitian Muozos dan Rushforth. Terdapat 68 persen anak berusia 5 tahun ke bawah yang menjadi korban pembunuhan dalam keluarga. Sehingga anak usia 5 tahun ke bawah memiliki risiko yang lebih tinggi menjadi korban kejahatan. Terkait dengan pembunuhan terhadap anak, penelitian menunjukkan bahwa 63 persen pembunuhan ini dilakukan oleh ayah mereka dan 37 persen oleh ibu mereka.

Pembunuhan parricide mengacu pada pembunuhan yang dilakukan oleh anak terhadap salah satu atau kedua orang tuanya. Menurut tulisan Heide dalam bukunya yang berjudul Why Kids Kill Parents: Child Abuse and Adolescent Homicide memaparkan tiga tipe individu yang melakukan pembunuhan terhadap orang tuanya yaitu; anak yang mengalami penyiksaan orang tuanya hingga titik batas penerimaannya, anak yang mengidap gangguan mental, dan anak yang berbahaya karena dia anti sosial.

Penelitian yang dilakukan Mones dan dituangkan dalam bukunya yang berjudul When A Child Kills menyebutkan bahwa 90 persen anak-anak pelaku parricide mengalami kekerasan dan penyiksaan yang dilakukan oleh orang tuanya. Kekerasan dan penyiksaan yang dialami ini tidak hanya kekerasan fisik tetapi juga kekerasan seksual, kekerasan verbal, dan psikologikal.

Tipe selanjutnya adalah siblicide yang mengacu pada pembunuhan yang terjadi antara saudara kandung. Sedangkan untuk korbannya, Muozos dan Rushforth menyebutkan bahwa saudara laki-laki memiliki risiko yang lebih tinggi menjadi korban pembunuhan.

Peristiwa pembunuhan antara saudara kandung ini 42 persen diawali dengan pertengkaran mulut atau cek cok diantara keduanya, sedangkan 15 persen disebabkan karena pengaruh alkohol atau obat-obatan dan sisanya tidak diketahui secara jelas.

Baca: Duel Saudara Kandung, Kakak Tewas Kehabisan Darah Dicelurit Adik

Daly dkk dalam naskahnya yang berjudul Siblicide and Seniority mengungkapkan bahwa pelaku pembunuhan tipe ini seringkali berusia lebih muda daripada korbannya. Ini didasarkan pada hasil temuan dari penelitian yang dilakukan di Kanada, Jepang, Chicago, dan Britania.

Tipe yang terakhir adalah pembunuhan yang dilakukan oleh anggota keluarga lainnya. Pembunuhan bisa saja dilakukan oleh saudara ipar, saudara sepupu, dan ikatan persaudaraan lainnya. Menurut penelitian Wallace dalam naskahnya yang berjudul Homicide: The Social Reality terdapat dua penyebab umum terjadinya pembunuhan tipe ini yaitu karena konflik pernikahan atau kekerasan yang terjadi di dalam rumah tangga saudaranya.

Pelaku pembunuhan tipe ini mayoritas adalah laki-laki dengan persentase 88 persen. Mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Wallace, ini terjadi karena saudara laki-laki seringkali tidak terima jika saudaranya dilakukan dengan tidak baik oleh pasangannya.

Sehingga saudara laki-laki inilah yang merasa bertanggung jawab dan harus memberi pelajaran terhadap pasangan saudaranya itu. Inilah kemudian yang kemudian bisa berujung pada pembunuhan tipe ini.

Baca Selengkapnya

Home Sudut Pandang Riset: 5 Tipe Pembunuhan di Dalam Keluarga

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan masuk terlebih dahulu
Silahkan tulis komentar kamu