Riset: Ibu Bunuh Anak Akibat Stres dan Isolasi Sosial

Estimasi Baca :

Ilustrasi pembunuh wanita, Foto: Pixabay - Kriminologi.id
Ilustrasi pembunuh wanita, Foto: Pixabay

Kriminologi.id - Greniel Wijaya yang berusia lima tahun menjadi korban penyiksaan dan akhirnya tewas di tangan ibunya sendiri, Novi Wanti. Greniel diikat tali rafia dan dipukul dengan menggunakan sapu lidi. Novi juga menyemprotkan pembasmi serangga ke wajah anaknya. Walau sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat tapi nyawa Greniel tak tertolong.

Selain Novi, perempuan berinisial PD tega menusuk anak kandungnya yang belum genap 2 bulan. Setelah menganiaya bayinya, PD juga melakukan upaya percobaan bunuh diri dengan menusukkan pisau tersebut ke badannya sendiri. Warga Badung, Bali ini beserta anaknya langsung ditemukan oleh warga dan segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif.

Baca: Sering Ngompol, Novi Tega Aniaya Anak Kandungnya Hingga Tewas

Tidak hanya Novi dan PD yang melakukan perbuatan-perbuatan berbahaya bagi anaknya sendiri yang bahkan dapat berujung kematian. Peristiwa-peristiwa ibu menyiksa dan membunuh anaknya sendiri sebenarnya beberapaka kali terjadi di Indonesia.

Perilaku ibu yang begitu teganya menyakiti buah hatinya tentu saja memunculkan banyak pertanyaan tentang latar belakang dilakukannya tindakan tersebut. Meyer dkk dalam naskahnya yang berjudul Women Who Kill Their Children menyebutkan bahwa ibu yang melakukan kekerasan, pembunuhan, dan penelantaran terhadap anak kandungnya biasanya masih muda, single mother, kurangnya dukungan sosial, memiliki struktur keluarga yang besar, status ekonomi yang sulit, dan juga memiliki tingkat pendidikan yang rendah pula. Meyer dkk juga tidak menutup kemungkinan bahwa peristiwa itu terjadi karena adanya gangguan kejiwaan atau masalah psikotik para pelakunya.

Baca: Ibu Bunuh Anak, Novi Ditinggal Suami Saat Hamil 6 Bulan

World Report on Violence and Health yang dipublikasikan World Health Organization (WHO) pada 2014 juga membenarkan pernyataan Meyer dkk. Ibu yang melakukan kekerasan fisik kepada anaknya biasanya berusia muda, miskin, single, pendidikan rendah dan pengangguran. Ibu single di  Amerika Serikat tercatat 3 kali lebih sering menggunakan hukuman fisik yang berat kepada anaknya dengan tujuan mendisiplinkan si anak.

Leisha Davies dalam tulisannya yang berjudul Mothers Who Kill Their Children: A Literature Review menyatakan bahwa pembunuhan ibu terhadap anak kandungnya biasanya dilakukan seorang diri tanpa melihatkan pihak lain. Menariknya pada kasus seperti yang dialami PD itu, sebenarnya didasari oleh perasaan ketidakmampuan ibu melindungi anaknya.

Ibu yang membunuh anaknya dan kemudian tidak melakukan upaya bunuh diri, menurut WHO dalam World Report on Violence and Health ternyata dapat disebabkan karena stres dan adanya isolasi secara sosial terhadap pelaku.

Isolasi secara sosial adalah keterbatasan ruang bagi pelaku untuk berteman dan bersosialisasi sehingga ia merasa tidak memiliki dukungan sosial yang bisa menguatkan. Ini biasanya terkait dengan label dan stigma yang muncul dalam masyarakat saat memandang keluarga single parent.

Baca: Ibu Pembunuh Anak Jalani Tes Kejiwaan di RS Polri

Penyebab stres sendiri menurut naskah WHO tersebut bisa beragam yaitu perubahan status pekerjaan atau tempat bekerja, kehilangan pendapatan, dan masalah kesehatan. Bisa juga karena masalah lainnya yang meningkatkan konflik di dalam keluarga, dan tidak adanya saluran untuk melepaskan perasaan stres juga mendapatkan pertolongan secara psikologis dalam menyelesaikan stresnya.

 

Baca Selengkapnya

Home Sudut Pandang Riset: Ibu Bunuh Anak Akibat Stres dan Isolasi Sosial

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan masuk terlebih dahulu
Silahkan tulis komentar kamu