Riset: Indonesia Juga Punya Tentara Anak

Estimasi Baca :

Ilustrasi Tentara Anak, Foto: Pixabay.com - Kriminologi.id
Ilustrasi Tentara Anak, Foto: Pixabay.com

Kriminologi.id - Fenomena tentara anak ini pernah ditemukan di Indonesia ketika konflik yang terjadi antara pemerintah RI dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Walaupun tidak ada data yang akurat dalam menyebutkan jumlah anak yang terlibat konflik tersebut, namun dokumen Direktorat Jendral Perlindungan HAM Departemen Hukum dan HAM RI bekerjasama dengan UNICEF menyebutkan bahwa GAM telah melibatkan sebanyak 31 anak-anak dengan rentang usia 10-18 tahun.

Sebanyak lima di antaranya adalah anak perempuan. 7 orang dari mereka menyerahkan diri ke otoritas keamanan Indonesia, 10 tertangkap, dan sisanya (termasuk 2 orang yang berusia 11 tahun) tewas. Ke-31 anak tersebut menjalankan berbagai peran, yakni sebagai juru masak, pengantar logistik, informan, pemungut pajak Nangroe, pencuri senjata dan pembakar sekolah. Satu di antaranya (berumur 14 tahun) mengaku dipaksa untuk mengranat sekolahnya sendiri.

Baca: KPAI: Anak Masuk Geng Penjahat Lebih Bahaya dari Korban Perkosaan

Tentu saja, pelibatan anak-anak dalam konflik itu membawa dampak tersendiri bagi anak-anak. Mereka tidak saja beresiko terbunuh, terluka atau menjadi korban kekerasan atau perlakuan yang merendahkan martabat. Selain itu menurut Zach-Williams dalam Child Soldier in the Civil War in Sierra Leone, anak-anak seringkali mendapatkan perawatan yang rendah mutunya, dengan persediaan yang minim disediakan oleh para petugas. Mereka juga beresiko untuk ditangkap dan dipenjara.

Menurut laporan Depkumham dan UNICEF tersebut, hampir semua tentara anak di Aceh tidak bisa melanjutkan pendidikan mereka. Mereka juga mengalami kurangnya perawatan kesehatan dan gizi buruk. Dampak yang juga berat adalah dampak psikologi mereka. Keterpisahan dengan orang tua serta anggota-anggota keluarga lainnya karena harus meninggalkan desa karena masalah keamanan. Ketakutan agresi serta tertanamnya nilai-nilai kekerasan merupakan masalah yang umumnya dihadapi anak-anak yang terlibat dalam konflik.

Anak-anak yang terlibat sebagai tentara adalah kasus yang sudah lama menjadi keprihatinan dunia internasional, tetapi hingga kini jumlahnya tak juga berkurang. Setiap kali konflik senjata pecah dan bom-bom dijatuhkan ke wilayah musuh, maka detik itu pula akan muncul anak-anak yang jiwanya terluka: siap ikut mengangkat senjata membalas dendam membunuh lawan karena telah merenggut nyawa orang-orang yang mereka cintai. Bisa dibayangkan, apa yang berkecamuk di benak anak-anak korban perang itu ketika segala sesuatunya tiba-tiba hilang.

Baca: KPAI: Fenomena Geng Marak karena Anak Tak Bisa Salurkan Aspirasi

Tentara Anak Indonesia

Baca: Cegah Kekerasan Anak, Ajarkan Mereka Berani Melapor

Menurut  ada sekitar 300.000 anak yang terlibat dalam konflik bersenjata. Data ini juga mengalami peningkatan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Awalnya fenomena ini ditemukan pada tahun 1986 dimana sebuah kelompok pemberontakan Uganda yang bernama Ugandan National Resistance Army (UNRA) datang ke Ibu Kota Uganda, Kampala dengan membawa anak-anak yang juga memegang senjata. Sejak inilah fenomena tentara anak menjadi perhatian dunia.

Sebelum  UNRA, pelibatan anak-anak dalam konflik sudah terjadi sejak masa pemberontakan Pol Pot. Steven R Ratner dan Jason S. Abrams dalam Accountability for Human Rights Atrocities in International Law: Beyond theNuremberg Legacy menulis, salah satu modus operandi Pol Pot semasa killing field di Kamboja telah melibatkan anak dalam aksi teror. Ratusan anak usia 12-14 tahun merusak, menganiaya, bahkan   pembunuhan missal mengakibatkan sekitar 2 juta jiwa melayang selama 17 April 1975 hingga 7 Januari 1979.

Tentara anak merupakan sebuah fenomena yang seringkali dijumpai pada daerah-daerah yang mengalami konflik bersenjata dan persebarannya hampir di seluruh dunia. Anak merupakan individu yang rentan mengalami viktimisasi dan membutuhkan perlindungan dari banyak pihak. Dalam kondisi apapun seharusnya anak-anak mendapatkan hak mereka. Karena seluruh konflik yang terjadi merupakan urusan orang-orang dewasa. Anak-anak tidak mengetahui permasalahannya tapi mereka yang menjadi korbannya.

Baca: Tangkal Kekerasan Siswa, Komnas PA Usulkan Satgas Perlindungan Anak

Apa yang dialami oleh anak-anak ini jelas saja merupakan suatu pelanggaran terhadap Deklarasi Hak- Hak Anak tahun 1959 yang disebutkan pada asas 8 bahwa dalam kondisi apapun anaklah yang pertama-tama harus mendapatkan perlindungan dan pertolongan. Menjadikan anak-anak sebagai tentara justru mencederai asas tersebut, anak-anak memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terluka dan bahkan terbunuh ketika sedang terjadi penyerangan dan baku tembak.  

Mungkin banyak yang tidak percaya bahwa anak bisa bergabung dengan pihak-pihak yang terlibat perang. Dari tubuhnya  yang kecil, ia bisa membunuh dan menganiaya orang dengan ganas. Hal ini memang tidak bisa lepas dari kondisi psikologis dari anak itu sendiri. Anak-anak mudah untuk dipengaruhi dan mudah untuk dijanjikan sesuatu. Anak pun tidak menuntut bayaran sebanyak orang dewasa. Yang penting mereka mendapatkan makanan yang cukup.

Anak-anak juga lebih berani daripada orang dewasa karena mereka tidak memikirkan kondisi setelah terbunuh. Mereka hanya tahu menang. Jika terbunuh, mereka akan dikenang sebagai pahlawan.

Tentara anak bukan saja anak-anak yang membawa senjata dan bertugas membunuh musuh-musuhnya. Yang dimaksud tentara anak sebenarnya adalah anak-anak yang dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang berkonflik dan dilibatkan untuk membantu tugas mereka.

Anak-anak ini selain menjadi prajurit dalam peperangan juga memiliki banyak peran, yakni sebagai kurir untuk mengantar logistic, pesan, atau persenjataan, juru masak, informan. Bahkan menurut Abigail Leibig dalam tulisannya Girl Child Soldiers in Northern Uganda: Do Current Legal Frameworks Offer Sufficient Protection? menyebutkan bahwa di beberapa negara seperti El Salvador, Ethiopia, dan Uganda ditemukan adanya anak-anak perempuan yang digunakan untuk memuaskan nafsu seksual tentara-tentaranya dan dalam beberapa kasus diberikan kepada pimpinan kelompok untuk dijadikan istri.

Baca Selengkapnya

Home Sudut Pandang Riset: Indonesia Juga Punya Tentara Anak

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan masuk terlebih dahulu
Silahkan tulis komentar kamu