Foto Lembaga Pemasyarakatan, Foto: Orisa Shinta/Kriminologi.id

Riset: Peredaran Narkoba, Narapidana, dan Lapas

Estimasi Baca:
Sabtu, 25 Nov 2017 05:05:46 WIB

Kriminologi.id - Amir Aco, terpidana hukuman mati yang kini mendekam di Lapas kelas I Makassar rupanya menjadi aktor utama masuknya 900 butir ekstasi ke Sulawesi Selatan. Rekam jejak Amir Aco hingga saat ini telah tiga kali terkait dengan kasus-kasus narkoba.

Kali ini, setelah dijatuhi pidana hukuman mati pada kasus sebelumnya, Amir Aco justru tidak takut untuk tetap mengendalikan peredaran narkoba dari balik jeruji.

Tak hanya Amir Aco yang mengendalikan peredaran narkoba dari balik jeruji. Tersangka YN yang sedang menjalani hukumannya di Rumah Tahanan (Rutan) Kebon Waru Bandung juga menjadi aktor utama peredaran narkoba di Kota Bandung. Total barang bukti yang disita polisi dari anggota jaringan YN senilai Rp 3 miliar sehingga omzet jaringan ini mencapai ratusan juta per bulan.

Baca: Terpidana Mati Amir Aco Atur Peredaran Ekstasi dari Penjara

Peredaran narkoba yang dikontrol narapidana telah terjadi sejak tahun 2010. Jika masih ingat kasus jaringan pengedar narkoba dari Cina ternyata dikontrol oleh seorang narapidana yang berada di Lapas Nusakambangan. Kasus ini terungkap pada Agustus 2010. Jaringan ini memasukkan narkoba dari Cina dan kemudian transit di Malaysia baru masuk ke Indonesia.

Begitu terorganisirnya jaringan-jaringan narkoba yang dikendalikan dari dalam penjara menjadi suatu hal yang menyulitkan bagi penegak hukum. Pihak lembaga pemasyarakatan yang tidak menyangka bahwa salah seorang narapidananya sanggup mengatur segala sesuatunya dari balik penjara membuat mereka lengah.

Pengungkapan kasus-kasus semacam ini terjadi atas hasil pengembangan kepolisian terhadap penangkapan salah satu pengedar narkoba yang kebetulan jaringannya diatur dari dalam penjara.

Infografik dibalik predaran narkoba di jeruji besi. Infografik: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Mencari akar penyebab masalah peredaran narkoba yang diatur oleh narapidana memang tidak mudah, sebab ini adalah masalah yang begitu kompleks. Berdasarkan penelusuran yang dilakukan kriminologi dalam berbagai sumber, dapat disimpulkan beberapa hal yang berkontribusi terhadap masalah ini yaitu;

1. Mental petugas yang korup.

Korupsi tentu sudah tidak asing bagi bangsa Indonesia. Ketika para birokrat korup maka tentu saja output yang dihasilkan juga tidak bagus apalagi jika korupsi dilakukan pada saat proses seleksi. Sebab untuk menjadi petugas penjara seleksi dan tes juga tidak lepas dari adanya korup dari para birokratnya.

Sehingga calon petugas yang lolos bukan merupakan lulusan yang terbaik dan sesuai kriteria juga kualitas yang dibutuhkan. Hal ini tentu saja berdampak negatif pada kualitas kinerja para petugas penjara tersebut.

Salah satu buktinya adalah banyaknya ponsel yang beredar di kalangan narapidana. Sebenarnya narapidana tidak diperbolehkan memiliki atau memegang ponsel. Ini bisa menjadi celah bagi berbagai pelanggaran dan kejahatan lainnya. Koordinasi dengan jaringan pengedar misalanya, dilakukan melalui ponsel.

Baca: Ungkap Jaringan Narkoba Rp 3 Miliar, Polisi Periksa Rekening Tersangka

2. Tingkat kesejahteraan petugas penjara rendah.

Tingkat kesejahteraan yang rendah tentu saja menjadikan manusia kreatif untuk mencari pos-pos penerimaan tambahan uang. Oleh karena itu tidak heran jika dengan uang bisa melancarkan kepentingan walaupun berada di dalam penjara.

Diberikannya beberapa keistimewaan bagi narapidana tertentu tidak lepas dari masalah kemampuan nominal yang dapat dibayarkan oleh narapidana tersebut kepada petugas.

Walaupun terkait dengan masalah suap ini, pihak Lembaga Pemasyarakatan selalu berusaha meningkatkan pegawasan secara internal, namun tentu saja belum cukup maksimal untuk memantau seluruh petugas lapas yang ada di Indonesia

3. Kurangnya jumlah personil di dalam lapas.

Jumlah petugas yang masih tidak sesuai dengan jumlah narapidana menjadikan kinerja petugas tidak maksimal. Selain itu petugas yang tidak mencukupi tidak bisa melakukan pengamanan sesuai dengan apa yang diperlukan dan ditulis dalam peraturan yang ada.

Minimnya petugas lapas yang bertugas memunculkan sistem kompromi antara petugas dengan narapidana. Petugas lapas memfokuskan kondisi dan keadaan lapas yang tenang dan terkendali tanpa adanya kerusuhan, namun untuk mendapatkan hal itu dia harus berkompromi dengan beberapa narapidana yang menjadi pimpinan dalam lapas tersebut.

Hal ini dirasa perlu dilakukan oleh petugas karena jika seluruh narapidana melakukan pemberontakan, para petugas lapas pasti akan kalah baik secara jumlah maupun secara kemampuan.

4. Kondisi Penjara yang Over Capacity.

Kondisi ini jelas saja terjadi di semua penjara yang ada di Indonesia. Kondisi Over Capacity menyebabkan kontrol lemah. Apalagi sebelumnya telah dikatakan bahwa personel petugas penjara kurang, dan ditambah dengan penghuni penjara yang terlalu banyak pastilah penegakan hukum, peraturan dan kontrol yang ada di dalam penjara sendiri menjadi lemah.

Tidak jarang jika satu jaringan narkoba ataupun organized cime justru berkumpul di dalam lapas yang sama dan kemudian melakukan rekrutmen baru dari narapidana-narapidana yang ada. Sehingga setelah ada narapidana rekrutan yang bebas, dia akan melanjutkan kegiatan dan jaringan kelopok kriminal tersebut.

Kathryn Bonella yang menulis buku berjudul Hotel Kerobokan: The Shocking Inside Story of Bali’s Most Norious Jail pada tahun 2012 mengungkap begitu banyak kebobrokan yang terjadi di dalam penjara khususnya Lapas Kerobokan, Bali.

Bonella menemukan fasilitas yang begitu berbanding terbalik antara satu narapidana dengan narapidana yang lain. Contohnya narapidana bernama Clara yang merupakan pengedar narkoba asal Mexico. Ruang tahanannya sendiri begitu mewah, bahkan ada TV 26 inch di dalamnya. Sedangkan narapidana lainnya jangankan TV, untuk tidur saja mereka harus tumpang tindih.

Baca: Dicampur Gula Pasir, Sabu-sabu Gagal Masuk Lapas

Selain itu di dalam penelitian yang dilakukannya dalam buku tersebut juga terungkap bahwa narapidana bisa mendapatkan seks ataupun narkoba dengan membayar orang-orang yang tepat. Walaupun setelah buku ini diterbitkan, banyak bantahan yang diberikan oleh pihak pemasyarakatan waktu itu.

Jika mengacu pada temuan-temuan Bonella dalam bukunya, maka tidaklah heran jika peredaran narkoba dapat dilakukan dan dikontrol oleh narapidana dari balik jeruji penjara. Menurut Benjamin Lessing dalam tulisannya yang berjudul Inside Out: The Challenge of Prison-Based Criminal Organization menyatakan bahwa peran petugas lapas sendiri begitu besar dalam menghentikan keterlibatan narapidana dengan peredaran narkoba baik di dalam maupun di luar lapas.

Petugas lapas tidak bisa lagi mengabaikan dan menutup mata atas apa yang dilakukan oleh narapidana tersebut. Pengawasan juga harus ditingkatkan khususnya bagi pengunjung lapas. Lessing juga menambahkan bahwa ini bukanlah hal yang mudah dan membutuhkan komitmen jangka panjang. AS

KOMENTAR
500/500