Ilustrasi pembunuh wanita, Foto: Pixabay

Riset: Wanita Membunuh untuk Bela Diri

Estimasi Baca:
Jumat, 20 Okt 2017 11:05:38 WIB

Kriminologi.id - Ketua DPRD Kolaka Utara Muzakkir Sarira tewas ditikam Andi Erni Astuti yang tak lain adalah istrinya sendiri. Peristiwa Tersebut terjadi pada Selasa, 17 Oktober 2017 di rumah dinas korban yang terletak di Kecamatan Lasusua, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara.

Peristiwa ini begitu mengejutkan, sebabnya seorang istri yang tega membunuh suaminya sendiri tidak sering terjadi di Indonesia.  Menurut penelusuran Kriminologi, setidaknya ada empat kejadian istri membunuh suaminya selama 2017.

Baca: Kronologi Pembunuhan Ketua DPRD Kolaka Utara

Salah satunya pembunuhan terhadap Abdul Rani yang dilakukan oleh istrinya, Nur Hasanah. Peristiwa ini terjadi di Desa Paya, Kecamatan Tanah Luas, Kabupaten Aceh Utara, Aceh, 1 April 2017. 

Peristiwa istri membunuh suaminya sendiri jarang terjadi, sehingga peristiwa pembunuhan ini mengguncang masyarakat. Selain itu, anggapan masyarakat seorang istri memiliki sikap lemah lembut dan pasif terpatahkan dengan peristiwa ini.

Hasil penelusuran Kriminologi, dalam sebuah tulisan yang berjudul The Continuing Myth of the Violent Female Offender dalam Jurnal Criminal Justice Review, pada 2005, J.M Pollock dan M.S Davi berpendapat wanita yang melakukan kekerasan seperti laki-laki seringkali ditolak dan ditutupi karena adanya stereotipe bahwa laki-laki lebih memungkinkan melakukan kekerasan dan perempuan adalah kelompok yang pasif. 

Sementara, penelitian yang dilakukan oleh Mary E. Gilfus dkk pada 2010 dalam Gender and Intimate Partner Violence: Evaluating The Evidence menunjukkan temuan dimana tekanan sosial dapat menjadi ancaman terhadap suatu bentuk hubungan atau relationship yang kemudian membawa pengaruh kuat bagi perempuan melakukan kejahatan.

Walaupun biasanya perempuan menyatakan kejahatan yang dilakukannya atas nama cinta, demikian penelitian tersebut,  sebenarnya laki-laki memiliki andil dalam mendorong perempuan melakukan kejahatan.

Baca: Sosok Andi Erni, Pembunuh Ketua DPRD Kolaka Utara

Hal menarik muncul dari penelitian oleh Departemen Kriminologi Universitas Indonesia pada 2012 tentang Pembunuhan oleh Perempuan dalam Konteks Kekerasan dalam Rumah Tangga. Penelitian ini melibatkan 61 narapidana perempuan terkait kasus pembunuhan. Faktanya 96,7 persen korban pembunuhan oleh perempuan adalah orang yang dikenal oleh pelaku. 

Temuan ini juga menunjukkan bahwa permasalahan-permasalahan personal dapat menjelma menjadi ancaman bagi hubungan antara pelaku dengan korban yang telah saling mengenal dan pertengkaran-pertengkaran yang terjadi dapat memicu terjadinya pembunuhan. 

Selain itu, penelitian ini juga mengungkapkan 59 persen pembunuhan yang dilakukan oleh perempuan adalah tindakan yang spontan dan tanpa direncanakan. Pembunuhan yang dilakukan secara spontan ini dilakukan sebagai respons dan upaya penyangkalan maupupun upaya pembelaan diri pelaku terhadap tindakan yang dilakukan oleh korban. 

Menariknya, pembunuhan yang dilakukan oleh perempuan mayoritas terjadi di rumah. Hasil penelitian ini menunjukkan 72,1 persen pembunuhan yang dilakukan oleh perempuan terjadi di dalam rumah sedangkan 11,5 persen terjadi di lingkungan perumahan, dan 6,6 persen terjadi di tempat bekerja.

Latar belakang terjadinya pembunuhan oleh perempuan adalah sakit hati atas tindakan korban. Terdapat 49,2 persen perempuan yang mengaku membunuh korbannya lantaran sakit hati. Sedangkan 9,8 persen pembunuhan terjadi karena masalah utang-piutang, 6,6 persen pembunuhan terjadi karena korban selingkuh, dan 4,9 persen pembunuhan terjadi karena cemburu, dendam, dan kesal terhadap korban.

Baca: Asmara di Balik Pembunuhan Ketua DPRD Kolaka Utara

A. Wallace dalam bukunya yang berjudul Homicide: The Social Reality tahun 1986, menyebutkan perempuan yang membunuh suaminya memiliki latar belakang pengalaman menjadi korban kekerasan. Mereka membunuh sebagai bentuk respons terhadap kekerasan yang dilakukan suami mereka dan atau anggota keluarga lainnya.

Penelitian yang dilakukan Departemen Kriminologi Universitas Indonesia lagi-lagi menunjukkan fakta yang terjadi di Indonesia. Terdapat 55,7 persen pelaku pembunuhan mengalami kekerasan verbal dari korbannya, kemudian 50,8 persen pelaku pembunuhan juga mengalami kekerasan secara ekonomi. Selain itu, ada 47,5 persen pelaku yang mengalami kekerasan fisik dan 34,4 persen pelaku pembunuhan pernah mengalami kekerasan secara seksual.

Berdasarkan temuan penelitian tersebut, hampir semua perempuan yang melakukan pembunuhan terhadap suaminya memiliki pengalaman sebagai korban kekerasan baik secara verbal, ekonomi, fisik, dan seksual. Hampir seluruh pembunuhan tersebut terjadi sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri yang dilakukan perempuan untuk mengakhiri kekerasan yang dialaminya selama ini.

KOMENTAR
500/500