Simalakama Senjata Api Pak Polisi

Estimasi Baca :

Ilustrasi: Senjata Airsoft Gun Foto: Pixabay.com - Kriminologi.id
Ilustrasi: Penggunaan Senjata Api Foto: Pixabay.com

Kriminologi.id - Perkelahian Briptu Ridho dengan sekelompok orang di Lipss Club Bogor, Jawa Barat menimbulkan korban jiwa. Adalah Fernando Alan Wowor menghembuskan nafas terakhirnya akibat tertembak senjata api milik Briptu Ridho.

Perkelahian ini bermula dari percekcokan yang terjadi di lahan parkir klub malam tersebut. Walaupun terdapat dua versi kronologi terjadinya perkelahian dan penembakan tersebut. Namun yang pasti, Briptu Ridho mengeluarkan senjata api yang dibawanya saat itu. 

Baca: Fakta-fakta Tewasnya Fernando di Parkiran Diskotek Lipss

Sebenarnya perkara senjata api yang dibawa polisi ini menjadi perdebatan baik di Indonesia sendiri maupun di negara-negara lainnya. Sekadar mengingatkan kembali polemik pembelian 5 ribu pucuk senjata oleh Polri yang sempat diragukan. Karena di satu sisi masih banyaknya pelanggaran dan penyalahgunaan senjata api oleh anggota Polri dan di sisi lainnya adalah kerentanan anggota polisi menjadi korban dari pelaku kejahatan.

Berdasarkan penelusuran Kriminologi, setidaknya selama 2017 ada 13 kejadian polisi diserang dan mengakibatkan polisi tersebut mengalami luka serius hingga meninggal dunia. Namun, kasus-kasus penyalahgunaan senjata api oleh anggota polisi pun tidak sedikit. Menurut catatan kriminologi ada 9 kasus penyalahgunaan senjata api oleh polisi selama 2017.

Namun, persoalan penyalahgunaan senjata api oleh polisi ini juga dihadapi Amerika. Seperti yang dilansir dalam The Washington Post, polisi Amerika telah menembak mati 987 orang selama 2017.

Dua sisi ini bagaikan buah simalakama antara kebutuhan melindungi diri bagi anggota Polisi dan juga besarnya potensi penyalahgunaan senjata api oleh anggota. Gordon dan Ward dalam tulisannya yang berjudul Armed and Disarmed Police: Police Firearms Policy and Levels of Violence menyatakan bahwa terdapat hubungan langsung antara kebijakan polisi membawa senjata api dengan frekuensi dimana polisi menjadi korban penembakan. Risiko polisi terbunuh dalam menjalankan tugas lebih tinggi dibandingkan dengan risiko yang dimiliki oleh pihak yang bukan polisi.

Baca: Masih Pakai Seragam Dinas, Polisi Dibunuh di Semarang

Penggunaan senjata api oleh anggota Polri diatur dalam Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2009 khususnya pada pasal 47 yang menyatakan bahwa penggunaan senjata api hanya digunakan bila benar-benar diperuntukkan untuk melindungi nyawa manusia. Selanjutnya pada pasal 47 ayat 2 disebutkan juga senjata api bagi petugas hanya boleh digunakan untuk dalam hal;

  • menghadapi keadaan luar biasa,
  • membela diri dari ancaman kematian dan/atau luka berat
  • membela orang lain terhadap ancaman kematian dan/atau luka berat,
  • mencegah terjadinya kejahatan berat atau yang mengancam jiwa orang,
  • menahan, mencegah atau menghentikan seseorang yang sedang atau akan melakukan tindakan yang sangat membahayakan jiwa,
  • menangani situasi yang membahayakan jiwa, dimana langkah-langkah yang lebih lunak tidak cukup

Infografik Enam Situasi Polisi Boleh Lepaskan Tembakan. Infografik: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Tidak berbeda jauh dengan Indonesia, kepolisian Denmark juga memiliki regulasi yang serupa terkait penggunaan senjata api oleh polisi. Pada Danish Act on Police Activities yang dikeluarkan pada Agustus 2004 menyatakan polisi boleh menggunakan senjata api jika dibutuhkan karena dianggap dapat membahayakan nyawa dan melukai polisi sendiri maupun pihak lainnya. Akan tetap terdapat perbedaan regulasi antara Indonesia dan Denmark, polisi Denmark wajib untuk memperingatkan pelaku sebelum menembak baik dengan melepas tembakan peringatan atau paling tidak memperingatkan pelaku dengan berteriak.

Baca: Panggil Ahli Pidana, Polisi Cari Unsur Pembelaan Diri Briptu Ridho

Kedua peraturan tersebut membuka celah yang lebar bagi polisi untuk melakukan penilaian sendiri terhadap ancaman yang sedang dihadapi. Ancaman seperti apakah yang dianggap membahayakan sehingga penggunaan senjata api menjadi dibutuhkan. Menanggapi masalah ini, kepolisian Amerika menerapkan  kebijakan penggunaan body worn video atau kamera video yang diletakkan di badan anggota kepolisian. Sehingga ketika terjadi penembakan, rekaman video tersebut dapat memperlihatkan kejadian sebenarnya. Namun sayangnya, penelitian yang dilakukan oleh Community Oriented Policing Services dan Police Executive Research Forum dalam Implementing a Body-Worn Camera Program pada tahun 2014 menunjukkan penggunaannya oleh polisi kurang dari 25 persen.

Ancaman bahaya yang dihadapi polisi dalam menjalankan tugas rutin memang tidak bisa dipungkiri. Akan tetapi, kasus penyalahgunaan senjata api oleh anggota polisi juga harus dapat ditekan hingga angka terendah. Memperbaiki masalah ini, tentu saja harus dimulai sejak pelatihan anggota kepolisian pada penggunaan senjata api. Bukan hanya mengajarkan bagaimana penggunaannya, tetapi juga melatih anggota untuk menilai dalam situasi seperti apa yang memerlukan penggunaan senjata api dan situasi mana yang tidak perlu. Selain itu, dibutuhkan regulasi terkait penggunaan senjata api oleh polisi serta memperketat pemberian izin bagi anggota polisi untuk membawa senjata api.

Baca Selengkapnya

Home Sudut Pandang Simalakama Senjata Api Pak Polisi

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan masuk terlebih dahulu
Silahkan tulis komentar kamu