Stop Sebut Pedofilia Bagi Pelaku Kekerasan Seksual Terhadap Anak!

Estimasi Baca :

Ilustrasi predator anak. Ilustrasi: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id - Kriminologi.id
Ilustrasi pelaku kejahatan seksual terhadap anak. Ilustrasi: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Kriminologi.id - Pelaku kekerasan seksual terhadap anak kerap disebut dengan pedofilia. Ini biasa kita jumpai di media massa, media online dan bahkan dari pernyataan aparat penegak hukum sendiri.

Kriminologi sendiri beberapa kali menggunakan terminologi pedofil untuk menyebut pelaku kejahatan seksual terhadap anak. Penggunaan terminologi pedofil oleh media memang dimaksudkan untuk meningkatkan awareness masyarakat terkait kejahatan tersebut. Hanya saja, penyebutan pedofil yang sudah terlanjur digunakan secara luas ini ternyata telah bergeser dari arti sebenarnya.

Menyadari hal ini Departemen Kriminologi Universitas Indonesia bekerja sama dengan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) menyelenggarakan diskusi publik yang bertajuk "Meluruskan Narasi Pedofilia dan Kejahatan Seksual Terhadap Anak". Diskusi ini dilaksanakan pada 30 Januari 2018 bertempat di Auditorium Juwono Sudarsono (AJS) FISIP UI.

Salah seorang narasumber yaitu dr. Tara Aseana dari Psikiatri Universitas Indonesia menyebutkan bahwa Pedofilia adalah gangguan kejiwaan. Gangguan kejiwaan ini berada dalam payung besar gangguan kejiwaan Parafilia dan parafilia merupakan fantasi dan dorongan perilaku seksual yang tidak lazim.

Baca: Anak Korban Kekerasan Seksual, Kenali Tanda-Tandanya

dr. Tara juga menjelaskan bahwa pedofilia adalah gangguan kejiwaan yang menyebabkan seseorang memiliki fantasi atau dorongan seksual terhadap anak-anak khususnya dibawah 13 tahun.

“Pedofilia itu suatu fantasi dorongan perilaku seksual terhadap anak usia pra pubertas atau dibawahnya. 13 tahun kebawah. Orientasi dan fantasi ini minimal dimiliki selama 6 bulan. Jadi kalo hanya sekali-sekali itu bukan pedofilia.” Ujarnya

Oleh karena itu untuk menentukan apakah pelaku kejahatan seksual terhadap anak tersebut pedofilia atau tidak dibutuhkan diagnosis oleh psikiatri. Diagnosis ini dilakukan dengan mengacu pada Diagnostic Statistical Manual of Mental Disorders Fifth Edition (DSM-5) dan Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa (PPDGJ).

Proses diagnosanya juga membutuhkan waktu yang tidak singkat sehingga penggunaan terminologi pedofil untuk menyebutkan pelaku kejahatan seksual terhadap anak tanpa melalui diagnosis psikiatri adalah tidak tepat.

Baca: Simak, Cara Bijak Hindarkan Anak dari Predator Seksual

Penggunaan kata pedofil yang tidak tepat ini dapat menimbulkan dampak yang begitu luas dalam masyarakat. Menurut kriminolog Mamik Sri Supatmi, penggunaan kata pedofilia yang tidak tepat akan menyebabkan stigma terhadap orang-orang yang mengidap gangguan kejiwaan tersebut.

Infografik stop sebut pedofilia bagi pelaku kekerasan seksual anak. Infografik: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

“Tanpa adanya proses penilaian yang proper dalam menyebut Pedofilian maka dapat menyebabkan orang-orang yang tidak bersalah akan di stigma, akan dipinggirkan, akan didiskreditkan.” kata Mamik

Dampak lain yang sangat berbahaya adalah terbukanya celah bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak untuk berlindung dibalik pernyataan gangguan kejiwaan. Padahal tidak semua pelaku kejahatan seksual adalah orang yang mengidap gangguan kejiwaan Pedofilia tersebut.

“Penyebutan Pedofil secara sembarangan bisa dijadikan celah bagi para penjahat seksual terhadap anak. Pelaku bisa berlindung dibalik celah bahwa mereka tidak layak dan tidak proper secara hukum untuk mempertanggungjawabkannya.”

Baca: Mengenal Bipolar, Penyakit yang Menyelamatkan Pengemudi CRV

Hukum pidana di Indonesia mengacu pada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Berdasarkan pasal 44 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana disebutkan masalah pertanggungjawaban pidana dan pada pasal 44 ayat 1 juga dinyatakan bahwa seseorang yang mengalami gangguan kejiwaan tidak dapat dipidana.

“Barang siapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggungkan kepadanya karena jiwanya cacat dalam pertumbuhan atau terganggu karena penyakit, tidak dapat dipidana.”

Inilah kemudian yang harus menjadi perhatian dalam meluruskan narasi penggunaan terminologi dalam menyebut pelaku kejahatan seksual terhadap anak. Agar setiap pelaku kejahatan seksual terhadap anak tidak dapat memanfaatkan celah tersebut dan dapat mempertanggungjawabkan tindakannya di mata hukum. NL

Baca Selengkapnya

Home Sudut Pandang Stop Sebut Pedofilia Bagi Pelaku Kekerasan Seksual Terhadap Anak!

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan tulis komentar kamu