Arak Pasangan Bugil di Cikupa dan Orang-orang yang Ketakutan

Estimasi Baca :

Ilustrasi pencabulan. Foto: Ist/Kriminologi.id - Kriminologi.id
Ilustrasi orang ketakutan. Foto: Ist/Kriminologi.id

Kriminologi.id - enyidik Satuan Reskrim Polresta Tangerang, Banten, pekan lalu menangkap sekelompok orang yang diduga melakukan perundungan terhadap sepasang kekasih. Dua orang malang itu digerebek di kontrakannya di Cikupa , lalu ditelanjangi, diarak, direkam dan kemudian disebarkan ke media sosial. Orang-orang itu, termasuk ketua RT yang seharusnya menenangkan dan mengayomi warganya, menuding pasangan itu telah berzina.

Tapi tidak ada saksi dan bukti yang menunjukkan keduanya benar berzina, kecuali kecurigaan. Suatu malam, si lelaki datang ke kontrakan kekasihnya, masuk ke dalam dan pintu ditutup. Orang-orang yang tampaknya sudah lama “mengintai,” lantas mengrebek mereka dan terjadilah perundungan yang memalukan itu.

Baca: Kasus Persekusi Bugil, Sosiolog: RT dan RW Harusnya Sadar Peran

Mereka, orang-orang itu merasa lebih suci dari sepasang kekasih itu. Merasa tidak pernah berbuat dosa sehingga merasa berhak menjadi wakil Tuhan yang suci.

Pernikahan sepasang kekasih korban persekusi di Cikupa, Tangerang, Foto: Ist/Kriminologi

Padahal andai pasangan itu benar berzina, jahatkah kelakuan mereka? Kalau benar jahat, jahat pada siapa? Siapa atau apa yang dirugikan oleh perbuatan keduanya?

Di acara tivi kabel detektif restoran “Mistery Dinner” yang diputar setiap Sabtu sore, seorang lelaki muda yang baru beberapa bulan bekerja di sebuah restoran hidangan laut, harus menelan kenyataan pahit. Bosnya telah memecatnya karena (lewat kamera pengintai) ketahuan mencuri lobster. Bukan seekor melainkan bisa serangsel. Dan itu dilakukannya setiap hari. Lobster-lobster itu bukan dijual atau dikonsumsi sendiri, melainkan untuk dilepas kembali ke laut.

Baca: Al Setnov

Dia beralasan, populasi lobster di seluruh dunia terus berkurang, dan orang-orang tak seharusnya terus mengkonsumsi lobster. Kepada pelanggan yang memesan menu lobster, dia akan selalu bilang persediaan lobster habis, lantas menyarankan pelanggan memesan menu lain.

Beruntung si bos tak melaporkannya ke polisi, meskipun perbuatannya adalah sebuha tindak pidana atau kejahatan. Dan pelayan itu tampaknya aktivis lingkungan, yang salah memilih tempat bekerja.

Dalam kasus ini siapa yang jahat? Anak muda yang mencuri lobster dari restoran, atau pemilik restoran yang memecatnya sebagai pelayan?

Baca: Elliot Ness dan Selubung Politik Korupsi E-KTP

Di terminal atau di pasar, banyak pencopet hampir sekarat karena tertangkap lalu dihajar masa. Tapi sudah jadi rahasia umum, yang biasanya paling brutal memukuli mereka yang setiap hari mengambil jatah keamanan atau biasa disebut jatah preman (japrem) dari para pedagang. Mereka merasa sebagai penjaga lingkungan yang berhak membuat keadaan aman, meski perbuatan dan keberadaan mereka justru membuat para pedagang merasa tidak aman dan nyaman.

Lantas siapa yang jahat atau lebih jahat? Si pencopet yang malang, atau si preman?

Setengah abad lalu, ribuan orang di negeri ini dibunuh dengan alasan, mereka pantas dibunuh karena perbuatan mereka. Pernah, seorang hakim memenjarakan seumur hidup dua laki-laki karena didakwa sebagai pembunuh. Sewaktu pembunuh yang sebenarnya mengaku, dua laki-laki itu dibebaskan dengan kondisi usia renta dan terserang TBC. Mereka adalah Sengkon dan Karta.

Di mana pun itu, kejahatan atau kriminalitas adalah hitam-putih. terang dan jelas. Problemnya: sebagian orang kemudian mencoba mengaburkan dengan berbagai alasan, sehingga kejahatan dianggap bukan kejahatan. Sebagian malah memperdagangkannya.

Sebagian lagi bungkam dan hanya merasakanya. Dan itulah yang kini banyak terjadi: orang-orang yang ketakutan...!
 

Baca Selengkapnya

Home Sudut Pandang Warung Nula Arak Pasangan Bugil di Cikupa dan Orang-orang yang Ketakutan

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan masuk terlebih dahulu
Silahkan tulis komentar kamu