Dok. Tawuran Pelajar, Foto: Antara

Ketika Tindak Kekerasan Anak Merebak dan Kian Brutal

Estimasi Baca:
Minggu, 3 Des 2017 05:05:45 WIB

Kriminologi.id - Tumbuh kembang anak begitu rentan oleh pengaruh negatif lingkungan di sekitarnya. Lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat dan pengaruh media merepresentasikan perilaku anak. Sering kali tindak kekerasan yang terjadi pada anak tidak terlepas dari pengaruh tempat lingkungan mereka berada. Anak cenderung untuk meniru lingkungan terdekatnya. Mereka tidak semata butuh pengawasan agar terhindar dari kekerasan, namun perlu juga pendampingan dan pendidikan untuk mencegah tindak kekerasan terhadap dirinya.

Kasus kekerasan anak atau pelajar yang terjadi belakangan ini merupakan sebuah potret kecil dari melemahnya tanggung jawab pengawasan, pendampingan dan pendidikan terhadap anak. Memang benar perilaku anak sepenuhnya merupakan tanggung jawab orangtua. Seiring bertambah usianya, lingkungan anak tidak sepenuhnya berada di dalam rumah. Sosialisasi anak akan semakin melebar hingga ke luar rumah. Mereka bermain, belajar dan bergaul berada di lingkungan sekolah dan masyarakat di sekitarnya. 

Baca: Tawuran Remaja di Bekasi, 1 Orang Tewas Terbacok

Tindak kekerasan anak meningkat seiring berkembangnya zaman. Apalagi tuntutan hidup masyarakat modern saat ini membuat waktu orangtua lebih banyak bekerja di luar rumah. Konsekuensinya, aktivitas anak lebih banyak berada di luar rumah yang sedikit didampingi dan diawasi oleh orang tua mereka. Anak seakan tidak terurus. Celah kekosongan itu membuat anak menjadi sangat rentan terhadap tindak kekerasan. 

Kasus “Duel Maut Anak SD Mekarjaya” Kabupaten Bandung yang menewaskan Andhika Maulana oleh temannya, mengambarkan adanya kekosongan tanggung jawab terhadap anak. 

Demikian juga “Duel Gladiator Bomboman” ala siswa di Bogor yang menewaskan Hiralius Christian Event Raharjo oleh lima siswa yang telah ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi. 

Kasus serupa terjadi di Banten. Sebanyak 7 anak dirawat di RS Mitra Husada, Teluk Naga, Tangerang, Banten. Sebab mereka gagal belajar ilmu kebal membuat membuat sekujur tangannya tersiram air keras hingga menyebabkan kulitnya melepuh. 

Agustus lalu, seorang siswa SD di Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, juga meninggal setelah berkelahi dengan temannya. Rentetan kasus ini membuat orang tua semakin miris melihat lingkungan di luar rumah yang kurang bersahabat terhadap buah hatinya.

Baca: Marak Tawuran Pelajar, Sosiolog Sebut Meraka Hanya Unjuk Kegagahan

Anak membutuhkan lingkungan yang sehat. Tidak semata bagi kesehatan tubuhnya yang selama ini telah banyak menjadi perhatian dan kesadaran orang tua, publik dan pemerintah. Arena bermain, belajar dan bergaul yang sehat secara sosial dan masyarakat yang saling peduli atas tumbuh kembang anak perlu menjadi tanggung jawab bersama. Kebutuhan untuk menjaga anak menjadi sesuatu yang sangat urgent, khususnya ketika mereka berada di luar rumah. Bukannya setelah lepas dari pengawasan dan pendampingan dari orangtua, seakan anak bermain, belajar dan bergaul di lingkungan rimba belantara. 

Publik menyikapi kasus tindak kekerasan terhadap anak hanya ketika peristiwa itu terjadi dan paska setelah jatuh korban. Ibarat episode dalam film hanya terpotong pada saat bagian tengah dan akhir yang menjadi ending menarik dari sebuah tontonan. Proses awal ceritanya seperti apa dan bagaimana selalu diabaikan dan bukan menjadi perhatian utama. Setelah film berakhir tidak lama kemudian cerita cepat terlupakan.

Khalayak harus tahu, anak pelaku tindak kekerasan juga termasuk korban. Mereka menjadi korban paparan aksi kekerasan yang dilakukan langsung ataupun tidak langsung oleh pengaruh dan dampak lingkungan mereka berada.  Apalagi ending dari kasus ini anak pelaku kekerasan harus mengikuti proses hukum yang berlaku, terlepas dari nilai edukasi terhadap mereka. Sedangkan orang-orang yang di sekitarnya lepas dari jeratan hukum juga pendidikan. Padahal mereka memiliki kontribusi besar membiarkan hingga mendorong anak-anak terseret sebagai pelaku dan korban di arena kekerasan. Perbaikan masyarakat dan lingkungan tempat anak berada tidak tersentuh sama sekali. 

Baca: Cari Musuh Bawa Celurit, 2 Pelajar Diciduk di Kebon Jeruk

Beberapa peneliti kekerasan anak menyadari bahwa lingkungan pembinaan di lembaga pemasyarakatan atau lapas anak malahan tidak kondusif menjauhkan pelaku tindak kekerasan anak. Penjara dan lingkungannya selama ini dinilai lebih besar memposisikan anak sebagai pelaku kriminal. Apalagi anak pelaku kekerasan telah distempel oleh negara sebagai tersangka atau narapidana. Akibatnya cara dan memperlakukan anak di dalam penjara layaknya penjara bagi pelaku kriminal pada umumnya. 

Secara psikologis, perkembangan moral anak usia sampai dengan 18 tahun masih belum matang. Perkembangan moral anak  menjadi  terganggu ketika berada dalam lingkungan penjara yang tidak kondusif tersebut.  Sehingga rentan membuat trauma yang mendalam di dalam diri mereka. Seiring mereka di dalam penjara, bentuk kasih sayang yang alamiah diberikan oleh orang tua mereka juga begitu minim dan sangat berkurang.

Hal ini cenderung membuat anak tidak banyak berubah. Penjara anak justru memunculkan kekhawatiran tempat menyuburkan tindak kekerasan anak.

Solusi atas tindak kekerasan anak seolah menemui jalan buntu. Apalagi masih banyak masyarakat menghukum anak pelaku kekerasan sebagai “anak nakal”. Sanksi sosial itu juga tidak banyak kontribusinya dalam perbaikan diri sang anak. Seolah hanya sebatas efek jera buat pelaku, sehingga apa yang selama ini dilakukan oleh masyarakat hanya sebatas menghakimi tidak mendidiknya. 

Upaya efektif untuk mengatasi masalah selalu menemukan jalan buntu. Hal itu disebabkan upaya menemukan solusi terletak pada persepsi yang tidak menyeluruh. Prespektif melihat kekerasan anak hanya pada sisi peristiwa saat  terjadi dan upaya paska kejadian. Sedangkan rangkaian awal mulai dari  informasi yang diserap dan kondisi lingkungan anak kurang menjadi perhatian. Deteksi dini dan pencegahan dini terhadap tindak kekerasan anak menjadi sangat strategis di lakukan sebagai solusi agar tidak berujung pada tindak kekerasan. 

Upaya prefentif diperlukan untuk mencegah terjadinya kondisi kekerasan pada anak. Fungsi deteksi dini adanya abnormalitas aktifitas dan komunitas anak perlu diaktifkan.  Lagi-lagi benteng utama dalam keselamatan tumbuh kembang anak berada di lingkungan anak terdekat. Terutama lingkungan keluarga, juga lingkungan dimana anak menghabiskan waktunya.

Nilai-nilai moral spiritual, pendidikan tentang bahaya kekerasan, dan keharusan untuk menyanggi sesama perlu ditumbuhkan sedini mungkin pada setiap anak. Upaya tersebut sebagai bekal anak untuk memilah dan menentukan langkah baik dan yang benar.

Pengaruh negatif  teknologi terhadap anak juga menjadi pertimbangan untuk melakukan cegah dini.  Meski ada nilai posistifnya, perkembangan teknologi dan hiburan melalui game yang menyebabkan anak menjadi kecanduan telah mengajarkan banyak pelanggaran hukum dan pembiaran kekerasan dipandang sebagai hal biasa bagi anak. 

Mayoritas anak usia sekolah dasar saat ini telah mengakses internet dan tidak terlepas dari gadget dalam keseharian mereka. Konten-konten kekerasan yang dimainkan dalam game-game tersebut yang diakses dalam waktu yang lama akan berdampak pada terinternalisasinya pemikiran pada diri anak bahwa kekerasan sebagaimana yang mereka mainkan atau mereka tonton adalah sebuah kewajaran.

Untuk mengantisipasinya, perlu diupayakan untuk memberikan penjelasan pada anak tentang hal-hal yang baik dan yang tidak baik, serta menguatkan pondasi anak dari pengaruh buruk lingkungan maupun teknologi yang memungkinkan anak terpapar olehnya. 

Selain itu, perlu juga diajarkan pada anak bagaimana cara menghindar dan tidak bergaul dengan teman-teman yang suka bertindak tidak baik. Terutama bagi teman-temanya yang suka berperilaku kasar dan sering berbicara dengan kalimat-kalimat yang tidak baik. Teman-teman yang memiliki perilaku tidak baik sebaiknya dihindari hingga mereka menjadi baik. NL
 

KOMENTAR
500/500