Ilustrasi whisper. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Menelusur Cara Transaksi Seks Online Melalui Aplikasi Whisper

Estimasi Baca:
Minggu, 8 Apr 2018 13:15:59 WIB

Kriminologi.id - Sebelumnya, kriminologi.id menemukan penyalahgunaan dalam applikasi Whisper yang memfasilitasi transaksi bahkan prostitusi secara online. Aplikasi yang mengedepankan anonimitas ini menjadi favorit masyarakat kota besar seperti Jakarta untuk menulis dan menuangkan apa saja di dalam aplikasi tersebut, termasuk perihal seks.

Proses transaksi seksual yang dilakukan melalui aplikasi Whisper cukup unik dan berbeda dengan transaksi seksual melalui aplikasi lainnya. Pasalanya setiap penggunanya adalah anonim dan tidak ada informasi identitas apapun yang tertera dalam akunnya.

Mencari tau lebih jauh masalah ini, kriminologi.id menemui dua orang narasumber berinisial DT dan IA yang memahami dan bahkan pernah melakukan transaksi seks melalui aplikasi Whisper tersebut.

Proses transaksi seksual melalui Whisper bisa diawali dari kedua pihak baik pihak yang menawarkan jasa maupun dari konsumen jasa tersebut. Narasumber DT menuturkan pihak yang menawarkan jasa akan mengunggah kata-kata yang berbau sensual.

“Biasanya si perempuan tersebut akan menge-post dengan kata-kata berbau sensual” ujarnya

Sedangkan menurut narasumber IA, laki-laki pun bisa memberitahukan bahwa dirinya membutuhkan layanan seks dengan nominal tertentu dan memberi kode untuk menghubunginya via layanan chat Whisper bagi yang tertarik.

“Kaya waktu itu postingan itu biasanya kaya punya duit nih sekian ratus ribu yang BU (Butuh Uang) boleh chat dong” ujar IA.

Selanjutnya, kedua pihak berkomunikasi melalui layanan chat Whisper untuk membahas syarat-syarat apa saja yang harus dipenuhi dan juga membahas masalah harga yang telah disepakati maka kemudian keduanya akan berpindah ke layanan sosial media lainnya seperti Whats App atau Line.

“Chat terus apa saja syarat-syaratnya terus nanti kalo misalnya deal, udah kita beralih ke sosmed lain move gitu.” Ujar DT yang mengaku telah beberapa kali menggunakan layanan Whisper untuk memenuhi kebutuhan seksualnya.

Menurut narsumber, ada waktu-waktu tertentu dimana konten seksual dan bahkan tawaran untuk berhubungan seks ini begitu ramai diunggah di aplikasi Whisper atau disebut juga dengan prime time. Prime time di aplikasi Whisper dimulai dari sore dimana orang-orang pulang kerja hingga menjelang dini hari.

“Biasanya itujam pulang kerja sampai malam, misalnya kalo malem banget kayak late night banget itu dari jam 9 keatas sampai pagi” tutur IA saat ditemui kriminologi.id di sebuah kafe di bilangan Jakarta Selatan.

Begitu maraknya penyalahgunaan aplikasi Whisper ini memunculkan rasa penasaran kriminologi.id untuk mengetahui lebih dalam apa dan bagaimana sebenarnya aplikasi ini. Aplikasi Whisper ini rupanya adalah  produk utama dari perusahaan media bernama WhisperText LLC. Pendirinya adalah Michael Heyward dan Brad Brooks. Michael merupakan anak dari Andy Heyward yang merupakan CEO dari sebuah perusahaan iklan besar dengan klien seperti Netflix, Disney, HBO, dan MTV.

Pengguna Whisper hingga saat ini mencapai 250 juta orang dan menurut data yang dilansir TechCrunch pada Maret 2017, akses terhadap situs Whisper baik versi mobile maupun desktop dan akun sosial media Whisper mencapai 17 miliar akses setiap bulannya. Inilah kemudian meletakkan Whisper sebagai aplikasi jejaring sosial terfavorit ke-89 di Ios App Store.

Gelombang Whisper masuk di Indonesia sejak 2-3 tahun yang lalu dan mencapai puncaknya pada tahun 2017. Pengguna Whisper masih terbatas di kota-kota besar seperti Surabaya, Malang, Jogja, dan Jakarta. Tentu saja Jakarta menjadi kota dengan pengguna terbanyak di Indonesia.

Awalnya Whisper digadang-gadang sebagai aplikasi yang membawa pengaruh positif bagi kondisi emosional seseorang. Fitur anonimnya memungkinkan bagi siapa saja untuk bercerita tentang apa saja. Salah satu contohnya adalah pengakuan orang-orang yang dihantui rasa bersalah karena telah membunuh orang lain walaupun itu merupakan upaya membela diri.

Mendukung pernyataan ini, narasumber IA menyebutkan bahwa aplikasi Whisper merupakan aplikasi yang anonim sehingga para penggunanya tidak perlu menyebutkan identitas dan bahkan untuk menggunakannya tidak memerlukan alamat email seperti media sosial lainnya.

“Ini platform aplikasi yang kita nggak perlu ngisi identity, jadi itu benar-benar anonim. Kalo kita nggak bertukar informasi sama sekali ya loe nggak akan tau dia siap” ujar IA yang mengaku sudah hampir 3 tahun menggunakan Whisper.

Anonimitas yang disebut dapat memberikan keleluasaan bagi penggunanya untuk berkeluh kesah ternyata juga membawa dampak negatif yang membahayakan. Foxnews menetapkan aplikasi Whisper sebagai aplikasi ke-4 paling berbahaya bagi anak dan remaja.

Salah satu bahaya yang mengancam adalah fitur nearby yang ada di aplikasi tersebut dapat menunjukkan lokasi masing-masing pengguna. Ketika seorang pengguna memberikan informasi yang cukup banyak, maka orang lain dapat menemukan lokasi dimana pengguna tersebut berada. Tentu saja ini dapat dimanfaatkan oleh orang-orang yang berniat jahat. Seperti yang diungkapkan oleh IA bahwa apa saja dapat terjadi disana.

“Kaya anything can happen disana” ujarnya.

Infografik fakta Whisper. Infografik: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

 DP
KOMENTAR
500/500