Ilustrasi Whisper. Foto: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Penyalahgunaan Whisper, dari Prostitusi Anak Hingga Transaksi Ganja

Estimasi Baca:
Minggu, 15 Apr 2018 15:50:47 WIB

Kriminologi.id - Aplikasi Whisper adalah aplikasi jejaring sosial yang penggunaannya ditujukan untuk tempat berkeluh kesah. Salah satu keunggulan aplikasi ini adalah anonimitas, sehingga para penggunanya tidak perlu memeberkan identitasnya untuk membuat akun.

Sebelumnya, Kriminologi.id telah menemukan penyalahgunaan aplikasi Whisper sebagai sarana transaksi seks secara online. Cara transaksinya pun telah dijelaskan dalam tulisan sebelumnya.

Selain prostitusi online, ternyata Kriminologi.id juga menemukan beberpa kegiatan-kegiatan terlarang lainnya yang dilakukan melalui aplikasi Whisper. Salah seorang narasumber bernama DS menyatakan bahwa jenis kejahatan yang paling sering terjadi di aplikasi Whisper adalah penipuan.

Misalkan sudah bersepakat dengan pengguna lainnya untuk melakukan VCS (Video Call Sex)  atau CS (Chat Sex) namun setelah ditransfer ternyata nomornya di blokir. Begitu juga kesepakatan untuk bertemu di suatu tempat dan melakukan hubungan seksual, namun setelah ditransfer ternyata orang tersebut tidak datang dan nomor diblokir. Modus-modus kejahatan seperti itu sering ditemukan di Whisper.

“Ada juga beberapa yang open (open video call sex) itu ujung-ujungnya nipu. Setelah transfer ke yang open itu kemudian akan move ke Line atau WhatsApp. Setelah saya kirim bukti transfer abis itu nomor saya langsung diblok,” ujar DS saat mengkisahkan pengalamannya menjadi korban penipuan.

Selain penipuan, kegiatan terlarang yang terjadi di aplikasi Whisper adalah prostitusi anak dibawah umur. Dua narasumber yaitu DS dan IA menuturkan bahwa ada pengguna Whisper yang masih dibawah umur. Berdasarkan observasi yang dilakukan Kriminologi.id, rentang umur pengguna Whisper mulai dari 15 tahun hingga lebih dari 45 tahun. sehingga anak umur 15-17 tahun pun juga bisa mengakses dan berinteraksi di dalam aplikasi ini.

Narasumber perempuan yang berinisial  IA mengaku pernah menerima pesan dari laki-laki yang mencantumkan umurnya baru 18 tahun, namun IA meyakini banyak sekali pengguna whisper yang tidak menggunakan umur aslinya. Ada yang ditambahkan agar terkesan lebih tua dan ada yang dikurangi agar terkesan masih muda. Biasanya jika ada laki-laki dibawah 20 tahun yang mengirim pesan biasanya IA akan mengabaikannya.

“Waktu itu ada, umur 16 tahun dia posting BU (butuh uang) cewek. Ada juga anak umur 18 tahun nyarinya tante-tante umur 25 tahun keatas.” ujar IA saat menceritakan pengalamannya selama 3 tahun sebagai pengguna Whisper.

IA juga menyadari bahwa kelompok umur dibawah 20 tahun itu tidak baik jika terpapar hal-hal berbau seksual. Ini yang menjadi alasan IA mengabaikan chat dari pengguna Whisper di rentang umur tersebut.

Selain masalah transaksi seks dan konten pornografi di dalam aplikasi Whisper, DS mengaku ada juga orang-orang yang memanfaatkan Whisper untuk mengunggah iklan sewa apartemen, jual-beli barang elektronik, dan bahkan dia sempat melihat unggahan seorang pengguna yang menjual salah satu jenis narkoba. Walaupun dia sendiri tidak memastikan apakah orang tersebut benar-benar menjual narkoba atau hanya iseng mengunggah iklan tersebut.

Menelusuri lebih jauh pernyataan DS terkait transaksi dan peredaran narkoba melalui aplikasi Whisper, Kriminologi.id menemukan bahwa benar terdapat beberapa unggahan yang menyiratkan kebutuhan untuk membeli narkoba khususnya jenis Ganja. Seringkali pengguna Whisper ini menggunakan istilah “Gele” untuk menyebut Ganja.

Hingga tulisan ini diturunkan, belum ada perubahan yang terjadi di aplikasi Whisper. Masih banyak kegiatan prostitusi online dan pelanggaran-pelanggaran lainnya di aplikasi Whisper. Anonimitas yang ditawarkan aplikasi Whisper seperti menjadi jaminan kerahasiaan dan keamanan penggunanya dalam melakukan apapun.

Infografik Kejahatan lain di Aplikasi Whisper. Infografik: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

KOMENTAR
500/500